Tuchel Akui Bellingham Tak Salah, tapi Inggris Wajib Tampil Lebih Baik
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Thomas Tuchel mendukung pernyataan Jude Bellingham soal perjuangan tim, namun menuntut peningkatan kualitas permainan.
- Duet Bellingham dan Harry Kane mencetak 12 dari 13 gol Inggris di Piala Dunia 2026, menjadi tumpuan utama di semifinal.
- Inggris akan menghadapi Argentina atau Swiss pada laga semifinal, dengan tekanan untuk memperbaiki performa kolektif.

Pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel, tidak membantah pernyataan Jude Bellingham yang menyebut skuad Garuda Putih telah bekerja keras saat mengalahkan Norwegia di perempat final Piala Dunia 2026. Namun, ia menegaskan bahwa timnya masih jauh dari kata sempurna dan harus segera meningkatkan performa jika ingin melaju ke final.
Dalam laga yang berlangsung di Miami, Sabtu (5/7/2026) waktu setempat, Inggris tertinggal lebih dulu sebelum Bellingham mencetak dua gol untuk membalikkan keadaan menjadi 2-1. Usai pertandingan, Bellingham yang dinobatkan sebagai pemain terbaik mengatakan bahwa semua pemain telah memberikan segalanya di lapangan. โIni pertandingan yang berat. Semua pemain bekerja sangat keras. Apresiasi saya untuk mereka yang berjuang,โ ujarnya.
Tuchel, yang sempat terlihat kurang puas meski timnya menang, langsung ditanya wartawan mengenai komentar Bellingham. Ia mengakui bahwa semangat juang anak asuhnya patut diacungi jempol. โTidak ada yang menyangkal kerja keras mereka. Saya terkesan dengan usaha, semangat tim, dan keyakinan untuk bangkit dari keterpurukan. Itu luar biasa,โ kata pelatih asal Jerman itu.
Namun, Tuchel menekankan bahwa sebagai pelatih, ia harus melihat lebih dari sekadar hasil. โSaya pikir kami bisa bermain lebih baik. Secara umum, ini bukan pertandingan level tinggi. Kepala analis dan pelatih dalam diri saya masih merasa kami harus bermain lebih baik,โ tegasnya. Ia juga menyoroti ketergantungan tim pada Bellingham dan Kane yang telah mencetak 12 dari 13 gol Inggris di turnamen ini.
โKami perlu meningkatkan serangan agar pemain lain juga bisa terlibat. Tapi tentu saja, mereka adalah pemain penentu. Mereka menyukai tanggung jawab, punya kualitas, dan tampil di momen krusial. Tidak ada yang salah dengan itu. Kami tidak perlu malu karena dua pemain ini bermain untuk kami dan menentukan pertandingan,โ ujar Tuchel.
Ketika ditanya soal ekspresi wajahnya yang tampak tegang setelah kemenangan, Tuchel menjelaskan bahwa ia tidak kecewa dengan hasil atau tim. โSaya bangga dan bahagia. Saya merasa terhubung dengan tim ini karena mereka melakukan apa pun untuk melaju. Mereka menolak kalah. Tapi saya ingin mereka mengeluarkan kemampuan terbaik, karena performa puncak membantu memenangkan pertandingan. Kepala saya belum sepenuhnya puas dengan cara kami bermain, dan saya tegaskan itu,โ katanya.
Bagi Indonesia, dominasi Inggris yang bergantung pada dua bintang ini bisa menjadi pelajaran berharga. Timnas Indonesia, yang tengah membangun skuad muda, perlu belajar dari keseimbangan antara ketergantungan pada pemain bintang dan pengembangan kekuatan kolektif. Jika Inggris ingin menjadi juara dunia, mereka harus segera menemukan solusi agar tidak hanya mengandalkan Bellingham dan Kane.
Laga semifinal melawan Argentina atau Swiss akan menjadi ujian sesungguhnya. Akankah Tuchel mampu meramu strategi agar Inggris tampil lebih meyakinkan, atau justru kembali bergantung pada momen magis dua bintangnya?



