Argentina Tumbangkan Swiss 3-1, Bersiap Hadapi Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Julian Alvarez mencetak gol spektakuler di menit ke-112 setelah Swiss bermain dengan 10 pemain akibat kartu merah Embolo.
- Kemenangan ini mempertemukan Argentina dengan Inggris di semifinal, memperpanjang rivalitas klasik yang sarat muatan sejarah.
- Argentina kini tak terkalahkan dalam 12 laga Piala Dunia terakhir, berpeluang menjadi juara bertahan pertama sejak Brasil 1962.

Argentina memastikan tempat di semifinal Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Swiss 3-1 dalam laga sengit yang berlangsung hingga babak perpanjangan waktu di Stadion Kansas City, Sabtu (11/7) waktu setempat. Gol indah Julian Alvarez pada menit ke-112 menjadi pembeda, setelah Swiss harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-72 akibat kartu merah Breel Embolo.
Laga ini menjadi ujian berat bagi juara bertahan Argentina. Mereka unggul cepat melalui Alexis Mac Allister pada menit ke-10 memanfaatkan assist Lionel Messi dari sepak pojok. Namun, Swiss mampu menyamakan kedudukan melalui Dan Ndoye pada menit ke-67. Petaka bagi Swiss datang lima menit berselang ketika Embolo diganjar kartu kuning kedua karena diving setelah pemeriksaan VAR.
Unggul jumlah pemain, Argentina terus menekan tetapi gagal mencetak gol tambahan hingga waktu normal berakhir. Swiss bertahan mati-matian, memaksa laga berlanjut ke extra time. Baru pada menit ke-112, Alvarez melepaskan tembakan melengkung dari luar kotak penalti yang tak mampu dijangkau kiper Swiss. Lautaro Martinez memastikan kemenangan dengan gol ketiga di menit-menit akhir.
Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengakui timnya harus bekerja keras. "Kami banyak menderita, tetapi tahu mereka tim fisik. Hari ini keberuntungan ada di pihak kami karena salah satu pemain mereka diusir," ujarnya. Scaloni juga memuji ketangguhan Swiss yang hampir memaksakan adu penalti.
Kemenangan ini membuka jalan bagi partai semifinal yang sarat gengsi melawan Inggris, yang sebelumnya menyingkirkan Norwegia 2-1. Rivalitas Argentina vs Inggris bukan sekadar sepak bola; di baliknya ada sengketa Kepulauan Falkland (Malvinas) yang masih membekas. Pada Piala Dunia 1986, Diego Maradona mencetak "Gol Tangan Tuhan" dan solo run legendaris saat Argentina menang 2-1. Sejak itu, kedua tim bertemu dua kali di Piala Dunia: Argentina menang adu penalti pada 1998, Inggris membalas pada 2002.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menjadi tontonan menarik karena banyak penggemar sepak bola tanah air yang mendukung Argentina sejak era Maradona. Selain itu, keberadaan pemain keturunan Indonesia di timnas Inggris (seperti Justin Hubner) menambah dimensi lokal. Meski tak ada wakil Asia di semifinal, duel Argentina vs Inggris diprediksi menyedot perhatian besar di Indonesia.
Argentina kini berambisi menjadi tim pertama sejak Brasil 1962 yang mempertahankan gelar juara dunia. Namun, Inggris di bawah asuhan Thomas Tuchel bukan lawan mudah. Dengan sejarah panjang dan kualitas skuad yang merata, semifinal di Atlanta pada Rabu mendatang diprediksi berlangsung ketat. Akankah Argentina melanjutkan dominasi atau Inggris akhirnya memutus puasa gelar sejak 1966?



