Kartu Merah Perdana Akibat Aturan Identitas Keliru: Embolo Korban Simulasi di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Breel Embolo menjadi pemain pertama yang diusir karena aturan baru identitas keliru, setelah VAR mengoreksi kartu kuning yang salah sasaran.
- Aturan ini memungkinkan wasit membatalkan keputusan jika kartu diberikan kepada pemain yang tidak melakukan pelanggaran, pertama kali diterapkan di turnamen ini.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang konsistensi VAR dan dampak emosional pada pemain, dengan Embolo meninggalkan lapangan dalam tangisan.

Breel Embolo, penyerang tim nasional Swiss, mencatatkan sejarah kelam di Piala Dunia musim panas ini. Ia menjadi pemain pertama yang mendapat kartu merah akibat penerapan aturan baru identitas keliru, setelah wasit menganulir kartu kuning yang semestinya diberikan kepada pemain lawan. Insiden ini terjadi pada laga perempat final melawan Argentina, yang berakhir dengan kekalahan Swiss 1-3 setelah perpanjangan waktu.
Pada menit ke-72, wasit Joao Pinheiro awalnya memberikan kartu kuning kepada gelandang Argentina, Leandro Paredes, karena dianggap melakukan pelanggaran keras. Namun, setelah intervensi Video Assistant Referee (VAR), wasit meninjau tayangan ulang dan mengubah keputusannya. Alih-alih Paredes, wasit menilai Embolo-lah yang melakukan simulasi (diving) dan memberikan kartu kuning kedua, yang otomatis berujung kartu merah. Padahal, Swiss baru saja menyamakan kedudukan lima menit sebelumnya.
Aturan baru yang diperkenalkan FIFA untuk turnamen ini, atas permintaan kepala wasit Pierluigi Collina, menyatakan bahwa jika seorang pemain mendapat kartu karena pelanggaran yang sebenarnya dilakukan oleh pemain lawan, keputusan dapat dibatalkan. Dalam kasus Embolo, jika Paredes tidak menerima kartu kuning pertama, aturan identitas keliru tidak akan berlaku dan Embolo bisa tetap bermain. Aturan ini sebelumnya telah digunakan dalam laga Amerika Serikat melawan Paraguay, ketika bek AS Tim Ream mendapat kartu kuning yang kemudian dicabut dan diberikan kepada Miguel Almiron karena simulasi.
Reaksi para pengamat pun beragam. Mantan striker MLS Bradley Wright-Phillips menilai Embolo telah mengecewakan rekan setimnya dan berpotensi menggagalkan langkah Swiss ke semifinal. Sementara itu, mantan pemain timnas Jamaika Jobi McAnuff mengakui bahwa tayangan lambat membuat segalanya tampak lebih buruk, namun ia tetap bersimpati pada Embolo yang meninggalkan lapangan dalam tangisan. Argentina akhirnya memanfaatkan keunggulan jumlah pemain dan mencetak dua gol di babak perpanjangan waktu, memastikan tiket semifinal melawan Inggris.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, insiden ini menjadi pengingat betapa pentingnya teknologi VAR dalam menjaga keadilan pertandingan, meskipun kadang menimbulkan kontroversi. Di kompetisi domestik Indonesia, penggunaan VAR masih terbatas, namun kejadian seperti ini bisa menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan akurasi keputusan wasit. Pertanyaan yang muncul: apakah aturan identitas keliru ini akan diadopsi secara luas, atau justru menimbulkan kebingungan baru di lapangan?



