Materazzi: Italia Gagal ke Piala Dunia 2026, Cape Verde Bisa Jadi Mimpi Buruk
Baca dalam 60 detik
- Mantan bek Italia Marco Materazzi menilai kegagalan Azzurri lolos ke Piala Dunia 2026 bukan sekadar masalah kuantitas tiket, melainkan kualitas sepak bola yang tertinggal.
- Ia membandingkan perjuangan Argentina melawan Cape Verde di babak 32 besar, yang membutuhkan extra time, sebagai bukti bahwa tim kecil kini memiliki nyali dan kualitas untuk mengganggu raksasa.
- Materazzi menyoroti stagnasi sepak bola Italia pasca-2006, di mana federasi dan klub gagal berinovasi, sementara negara lain terus berkembang.

Marco Materazzi, pahlawan Italia saat menjuarai Piala Dunia 2006, kembali angkat bicara mengenai kemerosotan tim nasionalnya. Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, ia melontarkan pertanyaan provokatif: jika Italia lolos ke Piala Dunia 2026, akankah mereka mampu melewati hadangan Cape Verde seperti yang dialami Argentina? Pertanyaan ini muncul setelah Argentina, juara bertahan, harus bekerja keras hingga extra time untuk menaklukkan Cape Verde di babak 32 besar.
Kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut menjadi pukulan telak bagi para pendukung. Padahal, edisi 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada memperluas jumlah peserta menjadi 48 tim, menambah tiga jatah tambahan untuk Eropa. Namun, Azzurri tetap gagal memanfaatkan peluang tersebut. Banyak pihak menyalahkan format baru yang dinilai lebih menguntungkan negara dari Amerika Selatan, Afrika, dan Asia ketimbang Eropa.
Materazzi menepis keluhan tersebut. Menurutnya, masalah Italia bukan pada jumlah tiket, melainkan pada kualitas permainan. โSaya tidak ingin masuk ke pidato politik, saya akan coba membuat analisis sepak bola. Saya balik pertanyaan: seberapa sulit Argentina melawan Cape Verde? Jika Italia ada di posisi Argentina, apakah Anda pikir mereka akan lebih mudah?โ ujar Materazzi. Ia menekankan bahwa Cape Verde bukan sekadar tim penggembira. Mereka datang dengan rencana permainan yang jelas, berani menyerang, dan memiliki kualitas individu yang mumpuni.
Materazzi kemudian menyoroti akar masalah Italia yang sudah berlangsung lama. โSejak 2006, kami terlalu banyak diam. Sepak bola tidak berhenti pada Juli 2006. Kami seharusnya berlari lebih jauh, tapi justru tertinggal. Dan ini bukan hanya soal pemain atau pelatih,โ katanya. Ia mengaku sedih setiap kali membahas kemunduran ini. Pernyataan Materazzi menggemakan kritik yang selama ini dilontarkan pengamat sepak bola Italia: federasi lambat beradaptasi, liga domestik kurang kompetitif, dan pembinaan pemain muda tidak maksimal.
Bagi Indonesia, kasus Italia bisa menjadi pelajaran berharga. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia seringkali terjebak dalam euforia sesaat tanpa perbaikan sistemik. Kegagalan Italia menunjukkan bahwa prestasi masa lalu tidak menjamin masa depan. Investasi pada pelatihan pelatih, pengembangan usia dini, dan infrastruktur menjadi kunci agar tidak tertinggal dari negara-negara yang terus berkembang, seperti Cape Verde yang kini berani tampil percaya diri di panggung dunia.
Ke depan, tantangan bagi Italia adalah melakukan reformasi total. Pertanyaannya, mampukah FIGC (Federasi Sepak Bola Italia) keluar dari zona nyaman dan meniru negara seperti Jerman atau Prancis yang sukses membangun kembali tim nasional setelah kegagalan? Atau justru Indonesia yang bisa mengambil langkah lebih dulu?



