Kekalahan Kedua Beruntun: Keely Hodgkinson Gagal Kejar Rekor Dunia 800m
Baca dalam 60 detik
- Keely Hodgkinson finis kedua di Diamond League Eugene dengan waktu 1:56.73, tertinggal dari Lilian Odira yang mencetak rekor musim 1:56.19.
- Kondisi fisik Hodgkinson diragukan setelah tampil dengan perban di kedua lutut akibat jatuh, memicu spekulasi tentang kesiapannya mengejar rekor dunia 800m.
- Hasil ini memperpanjang tren inkonsistensi Hodgkinson musim ini, setelah sebelumnya mundur dari final 400m Kejuaraan Atletik Inggris karena cedera.

Olympic 800m champion Keely Hodgkinson kembali menuai hasil kurang memuaskan di ajang Diamond League. Berlaga di Eugene, Oregon, pelari asal Inggris itu harus puas menjadi runner-up setelah dikalahkan atlet Kenya, Lilian Odira, yang finis dengan catatan waktu 1 menit 56,19 detikโrekor terbaik musim ini bagi Odira. Hodgkinson sendiri mencatat waktu 1:56,73, jauh di bawah rekor Britania Raya yang ia cetak di Stockholm pada Juni lalu (1:54,61).
Kekalahan ini menjadi yang kedua beruntun bagi Hodgkinson di Diamond League, setelah sebelumnya ia juga takluk dari Audrey Werro di Stockholm. Yang lebih mencolok, performanya di Eugene masih terpaut jauh dari rekor dunia 800m putri yang telah bertahan sejak 1983, yakni 1:53,28 milik Jarmila Kratochvilova dari Ceko. Meski demikian, target ambisius itu tampaknya belum realistis mengingat kondisi fisik Hodgkinson yang kurang prima.
Dalam perlombaan tersebut, Hodgkinson terlihat tampil dengan kedua lutut diperban tebal akibat insiden jatuh yang dialaminya beberapa waktu lalu. Kondisi itu membuat start-nya lamban dan memengaruhi ritme larinya sepanjang balapan. Sebelumnya, pada Kejuaraan Atletik Inggris bulan lalu, ia juga mundur dari final 400m setelah merasakan "cedera ringan". Musim ini memang menjadi musim yang penuh pasang surut bagi atlet berusia 24 tahun itu.
Hodgkinson sejatinya tengah menjalani program latihan khusus dengan fokus pada nomor 400m untuk meningkatkan kecepatan pada lap pertama lari 800m. Strategi ini diharapkan membantunya mendekati rekor dunia yang sudah lama tak tersentuh. Namun, rangkaian cedera dan hasil kurang maksimal di dua seri Diamond League terakhir menimbulkan tanda tanya besar: akankah ia mampu bangkit sebelum kejuaraan dunia mendatang?
Sementara itu, di nomor lain, atlet Amerika Serikat mendominasi. Melissa Jefferson-Wooden memenangi lari 100m putri dengan waktu 10,78 detik, mengungguli Sha'Carri Richardson (10,79) yang harus puas di posisi kedua. Di nomor 200m putra, sprinter remaja Tate Taylor (19 tahun) mencuri perhatian dengan torehan 19,75 detik pada debut Diamond League-nya, mengalahkan juara Olimpiade Letsile Tebogo. Di nomor 100m putra, Kayinsola Ajayi dari Nigeria mencatat waktu 9,84 detik, mengalahkan juara dunia Oblique Seville.
Bagi pelari jarak menengah Indonesia, performa Hodgkinson musim ini bisa menjadi pelajaran berharga. Atlet seperti Agus Prayogo atau pelari 800m nasional lainnya dapat melihat bahwa konsistensi dan manajemen cedera adalah kunci utama di level elit. Selain itu, dominasi atlet Kenya dan Amerika di nomor lari jarak pendek dan menengah menunjukkan betapa ketatnya persaingan global, yang menuntut persiapan fisik dan mental prima.
Ke depan, fokus Hodgkinson akan tertuju pada kejuaraan dunia dan Olimpiade berikutnya. Pertanyaan besarnya: mampukah ia mengatasi masalah cedera dan kembali ke performa terbaiknya? Atau akankah generasi baru seperti Lilian Odira terus menekan dan merebut tahta juara? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal pastiโperburuan rekor dunia 800m putri masih panjang dan penuh intrik.



