Dokumen Perang: Militer Jepang Paksa Pabrik Sake Produksi Alkohol Bahan Bakar
Baca dalam 60 detik
- Arsip di Museum Sake Hakushika mengungkap perintah militer Jepang kepada pabrik sake untuk memproduksi alkohol bahan bakar pada 1945.
- Krisis minyak akibat embargo AS memaksa Jepang memanfaatkan alkohol sebagai campuran bensin untuk pesawat tempur.
- Temuan ini menyoroti dampak perang terhadap industri sake Jepang yang produksinya merosot tajam dan mempengaruhi budaya minum sake.

Sebuah temuan arsip di Museum Sake Hakushika, Nishinomiya, Prefektur Hyogo, mengungkap fakta kelam di balik industri sake Jepang pada akhir Perang Dunia II. Dokumen-dokumen yang baru terkonfirmasi menunjukkan bahwa Angkatan Darat dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang memerintahkan pengusaha sake untuk memproduksi alkohol sebagai bahan bakar, di tengah krisis minyak yang kian parah dan persiapan perang habis-habisan mempertahankan tanah air.
Perintah tersebut dikeluarkan pada April 1945, hanya beberapa bulan sebelum Jepang menyerah. Surat dari Kepala Cabang Kinki Markas Besar Bahan Bakar Angkatan Darat meminta pabrik sake untuk "mendorong produksi alkohol dengan dukungan Angkatan Darat." Lima hari kemudian, Angkatan Laut menyusul dengan instruksi serupa, menyatakan keputusan untuk "memobilisasi pabrik Anda, memberikan dukungan kuat, dan memproduksi alkohol bahan bakar." Persaingan antara kedua angkatan tersebut dalam mengamankan sumber daya menjadi jelas, masing-masing berusaha menempatkan pabrik sake di bawah kendali mereka.
Pabrik Tatsuuma-Honke Brewing, yang didirikan pada 1662 dan terkenal dengan merek Hakushika, akhirnya berada di bawah pengawasan Angkatan Laut. Mereka diminta memproduksi alkohol mentah 30%, mirip dengan shochu, yang oleh militer dianggap "semakin penting sebagai bahan bakar untuk pesawat dan keperluan darat." Namun, perang berakhir sebelum pabrik sempat memproduksi satu batch pun. Meski begitu, dokumen menunjukkan adanya alokasi produksi bulanan sebesar 900 koku (sekitar 160 kiloliter) untuk Tatsuuma-Honke, serta daftar pembagian volume produksi yang mencakup merek-merek terkenal seperti Hakutsuru, Nihonsakari, Shirayuki, dan Kiku-Masamune.
Keputusan militer memanfaatkan alkohol tidak terlepas dari blokade minyak yang dilakukan Amerika Serikat. Sebelum perang, Jepang mengimpor sekitar 90% kebutuhan minyaknya, dengan 80% di antaranya berasal dari AS. Namun, memburuknya hubungan kedua negara, yang memuncak pada embargo total minyak pada Agustus 1941, memaksa Jepang melancarkan perang ke Asia Tenggara untuk merebut daerah penghasil minyak. Meski sempat berhasil, pasokan minyak segera terputus akibat kapal tanker yang tenggelam oleh kapal selam dan pesawat AS. Pada awal 1945, hampir tidak ada minyak yang masuk ke Jepang.
Data dari U.S. Strategic Bombing Survey menunjukkan persediaan minyak Jepang merosot drastis dari sekitar 48,89 juta barel pada 1941 menjadi hanya 4,95 juta barel pada awal 1945. Kelangkaan bahan bakar penerbangan, yang membutuhkan kualitas tinggi, menjadi sangat kritis. Untuk mengatasinya, alkohol dicampur dengan bensin. Uji coba pada Agustus 1944 membuktikan pesawat latih mampu terbang 30 jam dengan campuran alkohol dan bensin dengan perbandingan 1:1. Pemerintah dan militer kemudian memutuskan untuk meningkatkan produksi alkohol secara besar-besaran.
Kurator museum, Kazuya Oura, yang memimpin investigasi dokumen tersebut, mengungkapkan bahwa pabrik sake tidak punya pilihan selain patuh. "Mereka tidak bisa menolak," katanya. Oura juga menceritakan bahwa banyak orang tua pernah berkata, "Pabrik sake terbakar karena bekerja sama dengan militer." Setelah membaca dokumen, ia memahami pernyataan itu. Serangan udara AS memang menghantam pabrik Tatsuuma-Honke, mengurangi jumlah bangunan dari 53 menjadi sekitar 20. Perang juga memaksa pabrik menyetor peralatan seperti tong sake tembaga.
Dampak perang terhadap industri sake Jepang sangat mendalam. Produksi sake merosot hingga sekitar sepertiga dari kondisi normal, dan Oura menilai ini menjadi salah satu penyebab kemunduran budaya sake setelah perang. Temuan arsip ini tidak hanya mengungkap sejarah kelam militerisme Jepang, tetapi juga menunjukkan bagaimana perang merusak industri tradisional dan budaya lokal.
Bagi Indonesia, pelajaran dari sejarah ini relevan dalam konteks ketahanan energi dan dampak konflik terhadap sektor industri. Ketergantungan pada impor energi, seperti yang dialami Jepang, dapat menjadi titik rawan dalam situasi krisis. Di sisi lain, adaptasi industri lokal untuk kebutuhan perang, seperti yang terjadi pada pabrik sake, menunjukkan bagaimana sumber daya domestik dapat dimobilisasi, meski dengan konsekuensi jangka panjang yang berat.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana negara-negara modern, termasuk Indonesia, dapat membangun ketahanan energi tanpa mengorbankan sektor-sektor produktif dan budaya lokal. Arsip-arsip sejarah semacam ini menjadi pengingat bahwa keputusan di masa perang memiliki dampak yang melampaui medan pertempuran, menyentuh sendi-sendi ekonomi dan identitas budaya suatu bangsa.



