Naomi Osaka Kalah di Perempat Final Wimbledon: Plantar Fasciitis dan Jadwal Padat Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Naomi Osaka tersingkir di perempat final Wimbledon setelah kalah dari Karolina Muchova, meski sebelumnya sukses mengalahkan petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka.
- Osaka mengaku kelelahan akibat jadwal padat tanpa hari libur selama dua pekan, serta mengalami plantar fasciitis yang kambuh di lapangan rumput.
- Petenis asal Jepang itu tetap optimistis bisa merebut gelar Grand Slam kelima, terutama di US Open yang menjadi ajang favoritnya.

Naomi Osaka harus mengakui keunggulan Karolina Muchova di perempat final Wimbledon, Selasa (8/7), dengan skor 7-6 (4), 6-4. Kekalahan ini mengakhiri perjalanan terbaik Osaka di All England Club, sekaligus menyisakan cerita tentang cedera dan kelelahan yang menghantuinya.
Petenis berusia 28 tahun itu sebelumnya tampil gemilang dengan menyingkirkan Aryna Sabalenka, petenis nomor satu dunia, di babak keempat. Namun, performa apik tersebut tak mampu dipertahankan saat berhadapan dengan Muchova. Osaka mengaku kehabisan energi dan kesulitan menemukan ritme permainan.
โSaya merasa tidak bermain bagus sama sekali dan tidak punya energi,โ ujar Osaka seusai pertandingan. Ia menambahkan bahwa jadwal padat menjadi penyebab utama. โSaya bermain lebih banyak pertandingan dari biasanya sebelum Grand Slam. Saya ingin mencoba mencari ritme, dan itu berhasil. Tapi saya rasa saya tidak akan mengulanginya lagi. Akumulasi bermain dua pekan tanpa hari libur terasa berat.โ
Cedera kaki juga menjadi perhatian. Osaka mengungkapkan bahwa ia mengalami plantar fasciitis, yang mulai terasa sejak pramusim tahun lalu. โSaya merasa mungkin karena saya lebih sering menggunakan ujung kaki. Cedera ini kambuh di lapangan rumput karena saya lebih banyak mendorong ke depan. Saya rasa tidak akan mengganggu di lapangan keras,โ jelasnya. Sebelum Wimbledon, ia bahkan mundur dari final turnamen pemanasan di Bad Homburg karena cedera kaki yang sama.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, perjuangan Osaka melawan cedera dan jadwal padat bisa menjadi pelajaran berharga. Atlet profesional sekalipun harus pintar mengatur beban latihan dan kompetisi. Kasus Osaka mengingatkan pentingnya manajemen kebugaran dan pemulihan, terutama bagi atlet yang baru kembali setelah cuti melahirkan.
Meski kalah, Osaka tetap optimistis. Ia yakin masih memiliki peluang untuk merebut gelar Grand Slam kelima. โDi kepala saya, saya pikir masih ada kesempatan untuk memenangkan Grand Slam,โ katanya. Fokus selanjutnya adalah US Open, ajang di mana ia dua kali menjadi juara. Dengan pengalaman dan tekad yang kuat, Osaka masih menjadi ancaman serius di turnamen-turnamen mendatang.
Pertanyaan besarnya, akankah Osaka mampu mengatasi masalah kebugaran dan kembali ke puncak performa? Atau justru cedera plantar fasciitis ini akan menjadi penghalang berkepanjangan? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: semangat juang Osaka belum padam.



