Juara Great British Bake Off 2024 Umumkan Diagnosis Bipolar 2 dan Autisme: 'Saya Takut Dihakimi'
Baca dalam 60 detik
- Georgina Grasso, pemenang Great British Bake Off 2024, mengungkap diagnosis bipolar 2 dan autisme melalui unggahan Instagram yang jujur.
- Ia mengaku telah salah didiagnosis ADHD selama bertahun-tahun, dan kini berjuang memahami identitas serta dampaknya pada karier sebagai kreator konten.
- Pengakuan ini menyoroti tantangan diagnosis ganda dan stigma kesehatan mental, sekaligus membuka ruang diskusi tentang dukungan bagi pekerja kreatif.

Georgina Grasso, pemenang Great British Bake Off 2024, mengumumkan bahwa dirinya didiagnosis menderita bipolar 2 dan autisme. Pengakuan ini disampaikan melalui unggahan Instagram pada Minggu (16/8/2026), lengkap dengan serangkaian foto candid yang memperlihatkan kesehariannya. Dalam keterangan foto pertamanya, ia menulis, "Ternyata... saya tidak punya ADHD, saya punya bipolar 2 + autisme." Pengakuan ini langsung memicu gelombang dukungan dari penggemar dan rekan sesama kreator.
Perempuan 36 tahun itu mengaku telah mengalami empat episode hipomanik dan manik yang parah dalam delapan tahun terakhir, dengan episode terakhir terjadi tahun lalu. Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai "menakutkan" karena merasa "tidak punya kendali atas apa pun" yang dilakukannya. Dalam unggahannya, Georgina menulis, "Yang paling menakutkan adalah saya tidak punya kendali atas apa pun yang saya lakukan dan itu seperti tunnel vision." Pengakuan ini menunjukkan betapa beratnya beban yang ia tanggung selama ini, terutama di tengah tuntutan karier sebagai kreator konten yang menuntut konsistensi.
Georgina mengaku diagnosis ini datang sebagai "kejutan" dan memaksanya mempertanyakan identitasnya. Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya tentang bagaimana kondisi ini akan memengaruhi kariernya. "Menjadi kreator konten berarti harus konsisten, jadi saya sangat takut apakah saya bisa terus melakukan ini," tulisnya. Ia juga mengakui bahwa selama ini ia lebih banyak meneliti tentang ADHD, sementara pengetahuannya tentang bipolar masih minim. "Saya menghabiskan bertahun-tahun meneliti ADHD, tapi saya hampir tidak tahu apa-apa tentang bipolar," ujarnya.
Menurut organisasi kesehatan mental Mind, diagnosis bipolar 2 biasanya ditegakkan jika seseorang mengalami setidaknya satu episode depresi dan gejala hipomania yang berlangsung minimal empat hari. Sementara autisme adalah perbedaan perkembangan saraf yang memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi, memproses informasi, dan mengalami dunia. Kombinasi kedua kondisi ini sering kali sulit didiagnosis karena gejalanya tumpang tindih dengan ADHD, seperti yang dialami Georgina. Ia sendiri mengaku bahwa dokter sempat menyarankan kemungkinan ini tahun lalu, tetapi ia menolak mempercayainya.
Georgina juga menyoroti kesalahpahaman umum tentang bipolar yang sering disalahartikan sebagai ADHD. "Ternyata cukup umum jika bipolar salah didiagnosis sebagai ADHD," tulisnya. Ia menambahkan bahwa titik balik baginya adalah ketika ia mulai jujur sepenuhnya kepada psikiater tentang riwayat dan gejalanya. Pengakuan ini menjadi penting karena banyak orang mungkin mengalami hal serupa tanpa menyadarinya. Georgina berharap dengan berbagi kisahnya, ia dapat membantu orang lain yang mungkin berada dalam situasi yang sama.
Di tengah kekhawatiran tersebut, Georgina menegaskan tekadnya untuk terus berkarya dan mendukung keluarganya. "Saya benar-benar ingin terus berjalan, mendukung keluarga saya sebisa mungkin. Melakukan ini dari rumah adalah satu-satunya cara saya bisa melakukannya," tulisnya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para pengikutnya, baik yang baru maupun yang sudah lama mendukungnya sejak masa Bake Off. "Saya menghargai kalian semua!" tambahnya.
Georgina mengaku belum siap membahas periode terburuknya secara mendalam, tetapi ia berharap pengobatan baru yang dijalaninya dapat membawa "stabilitas" dalam hidupnya. "Saya mulai minum obat baru dan sangat berharap saya bisa 'stabil' dan bisa bekerja serta berkarya dengan konsisten," ungkapnya. Ia juga mengakui bahwa obat-obatan tersebut memiliki efek samping yang mengkhawatirkan, tetapi ia berharap manfaatnya lebih besar. "Mereka datang dengan efek samping yang membuat saya khawatir, tapi saya berharap manfaatnya lebih besar," katanya.
Pengakuan Georgina ini tidak hanya mengguncang dunia hiburan, tetapi juga membuka percakapan yang lebih luas tentang kesehatan mental, terutama di kalangan pekerja kreatif. Di Indonesia, isu kesehatan mental semakin mendapat perhatian, namun masih banyak stigma yang melekat. Kisah Georgina bisa menjadi pengingat bahwa diagnosis yang tepat dan dukungan yang kuat sangat penting. Seperti yang ia tulis, "Saya tahu saya masih saya. Tapi semua yang saya pikir saya tahu tentang kesehatan mental saya, ternyata bukan itu." Pertanyaannya, akankah keterbukaan seperti ini mampu mengubah cara masyarakat memandang gangguan mental?



