Mantan Bintang Australia David Warner Didenda Akibat Mengemudi dalam Pengaruh Alkohol
Baca dalam 60 detik
- Mantan pemain kriket Australia, David Warner, mengaku bersalah atas mengemudi dalam keadaan mabuk dan dikenai denda serta perangkat interlock.
- Insiden terjadi saat Warner mencoba bertukar kursi dengan penumpang wanita setelah melihat pos pemeriksaan, dengan kadar alkohol dua kali lipat batas legal.
- Hukuman ini berpotensi memengaruhi peran Warner sebagai komentator dan kapten tim, serta menjadi pengingat akan bahaya mengemudi dalam pengaruh alkohol.

Mantan pemukul tim nasional Australia, David Warner, harus berurusan dengan hukum setelah terbukti mengemudi dalam keadaan mabuk di Sydney pada April lalu. Pengadilan Waverley Local Court menjatuhkan denda sebesar A$1.500 (sekitar Rp15 juta) dan mewajibkan Warner memasang perangkat interlock di mobilnya. Perangkat ini akan mencegah mesin menyala bila terdeteksi alkohol dalam napas pengemudi.
Insiden bermula saat Warner mengantar keluarganya pulang dari acara sosial pada Minggu Paskah. Ketika melihat pos pemeriksaan acak di pinggir jalan, ia menghentikan mobil dan mencoba berpindah tempat duduk dengan seorang penumpang wanita. Namun, petugas tetap memeriksa dan hasil tes napas menunjukkan kadar alkoholnya lebih dari dua kali lipat batas legal. Hakim Clare Farnan menegaskan bahwa pelanggaran ini diperberat karena ada anak-anak di dalam mobil.
Hakim Farnan menyatakan, "Saya menerima bahwa Tuan Warner tidak mungkin mengulangi perbuatannya. Namun, sayangnya, mengemudi dalam pengaruh alkohol masih menjadi faktor signifikan dalam banyak kecelakaan di New South Wales." Pengadilan juga mendengar argumen pengacara Warner yang meminta kliennya dibebaskan dari hukuman karena telah mendapat hukuman tambahan berupa pemberitaan media yang berdampak pada peluang komersialnya.
Warner, yang pensiun dari kriket internasional pada 2024, kini aktif sebagai komentator untuk Fox Sports Australia dan menjadi kapten Karachi Kings di Pakistan Super League serta Sydney Thunder di Big Bash League. Menariknya, Sydney Thunder merupakan bagian dari kampanye pemerintah negara bagian New South Wales untuk menekan angka mengemudi dalam pengaruh alkohol. Cricket NSW, pemilik Thunder, dalam pernyataannya menegaskan komitmen mereka terhadap keselamatan berkendara dan akan terus mengedukasi para pemain.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa atlet profesional pun tidak kebal hukum. Di Indonesia, kesadaran akan bahaya mengemudi dalam pengaruh alkohol juga semakin menguat, dengan berbagai kampanye keselamatan berkendara yang digalakkan. Meski kriket belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, prestasi Warner selama kariernya—dengan 8.786 run dalam 112 Test dan 6.932 run dalam 159 ODI—menjadikannya figur yang disegani. Kejadian ini tentu mencoreng reputasinya, namun juga bisa menjadi pelajaran berharga tentang tanggung jawab publik figur.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kasus ini memengaruhi karier Warner sebagai komentator dan kapten tim. Meski hukum telah memberikan sanksi, dampak sosial dan profesional mungkin lebih luas. Apakah ia akan tetap dipercaya sebagai panutan dalam kampanye keselamatan berkendara? Atau justru kasus ini menjadi cambuk baginya untuk lebih berhati-hati? Publik akan terus mengawasi langkah selanjutnya dari salah satu pemukul terbaik Australia ini.



