Djokovic Kembali Buktikan Kehebatannya: Lolos ke Semifinal Wimbledon di Usia 39 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Novak Djokovic menaklukkan Felix Auger-Aliassime dalam lima set selama 5 jam 15 menit untuk mencapai semifinal Wimbledon ke-15.
- Kemenangan ini menegaskan dominasi Djokovic di usia senja, mengalahkan lawan yang 14 tahun lebih muda dengan fisik prima.
- Pertanyaan kini beralih pada pemulihan fisiknya jelang duel melawan Jannik Sinner, yang belum kehilangan satu set pun sepanjang turnamen.

Novak Djokovic kembali menuliskan sejarah di Wimbledon. Petenis Serbia berusia 39 tahun itu memastikan tempat di semifinal untuk kedelapan kalinya berturut-turut setelah menundukkan Felix Auger-Aliassime dalam pertarungan lima set yang berlangsung selama 5 jam 15 menit, Rabu (10/7) dini hari WIB. Kemenangan ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa Djokovic masih menjadi ancaman serius di usia yang tak lagi muda.
Pertandingan di Centre Court itu berlangsung dramatis. Auger-Aliassime, yang 14 tahun lebih muda, sempat unggul dan membuat penonton terbelah. Namun, Djokovic menunjukkan ketangguhan mentalnya dengan bangkit setelah kehilangan set ketiga. Pada set penentuan, ia mendominasi tie-break dan memaksa lawannya melakukan kesalahan backhand yang memastikan kemenangan. Penonton pun berdiri dan bersorak memberi penghormatan.
"Apa yang dilakukan Novak tidak normal. Di usia 39 tahun, ia masih bisa berlari mengejar setiap bola selama lebih dari lima jam. Kerja keras yang tidak terlihat pasti luar biasa," ujar Leon Smith, kapten tim Piala Davis Inggris, kepada BBC 5 Live. Mantan petenis nomor satu Inggris, Tim Henman, juga memuji konsistensi Djokovic: "Saya sudah melihatnya selama 20 tahun, dan di momen-momen besar, ia selalu tampil."
Namun, kemenangan ini tidak diraih tanpa hambatan. Djokovic mengalami cedera betis kiri saat meluncur mengejar backhand di set pertama. Ia membutuhkan waktu medis dan pergerakannya terbatas, terutama saat servis. Meski begitu, ia mampu bangkit dan menunjukkan mobilitas impresif di set-set akhir. "Saya memenangkan pertandingan ini dengan raket dan hati yang besar," kata Djokovic usai laga.
Pertanyaan besar kini adalah bagaimana kondisi fisiknya menghadapi Jannik Sinner di semifinal. Tahun lalu, Djokovic kelelahan setelah laga perempatfinal yang panjang dan kalah dari Sinner dalam tiga set langsung. Sinner sendiri belum kehilangan satu set pun di turnamen ini, sementara Djokovic harus menjalani laga terpanjang. "Saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi ini seperti final bagi saya. Saya sudah memberikan segalanya," ujar Djokovic.
Bagi penggemar tenis Indonesia, penampilan Djokovic menjadi tontonan langka. Ia adalah satu-satunya yang tersisa dari era 'Big Three' setelah pensiunnya Roger Federer dan Rafael Nadal. Di tengah dominasi generasi baru seperti Sinner dan Carlos Alcaraz, Djokovic masih menjadi tolok ukur. Ia berhasil mengalahkan Sinner di Australia Open tahun ini dan merebut satu set dari Alcaraz di final Prancis Terbuka. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan level itu di usia 39 tahun?
Dengan dua hari istirahat, Djokovic akan berusaha memulihkan tenaga. Namun, sejarah menunjukkan bahwa pemulihan tidak selalu sempurna. Jika ia mampu mengatasi Sinner, maka final melawan Alcaraz atau Daniil Medvedev akan menjadi ujian pamungkas. Akankah Djokovic menambah satu lagi mahkota Wimbledon, atau usia akhirnya berbicara?



