Marsch Bangga Meski Tersingkir: Kanada Harus Jadikan Piala Dunia 2026 Batu Loncatan
Baca dalam 60 detik
- Kanada tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah kalah 3-0 dari Maroko, meski tampil dominan.
- Absennya Alphonso Davies karena cedera hamstring menjadi pukulan berat bagi skuad Les Rouges.
- Pelatih Jesse Marsch mendorong tim untuk mempertahankan standar permainan dan membangun identitas sepak bola Kanada.

Kanada harus mengubur mimpi manis mereka di Piala Dunia 2026 setelah takluk 3-0 dari Maroko pada babak 16 besar, Sabtu (4/7) waktu setempat. Meski tersingkir, pelatih Jesse Marsch menegaskan rasa bangganya terhadap perjuangan anak asuhnya yang dinilainya layak menuai hasil lebih baik.
Les Rouges—julukan tim Kanada—sepanjang turnamen telah mencatat sejarah dengan meraih poin pertama, kemenangan pertama, dan lolos ke fase gugur untuk kali pertama. Namun, di laga kontra Maroko, dominasi penguasaan bola dan peluang yang tercipta tak mampu dikonversi menjadi gol. Sebaliknya, kesalahan sendiri dan ketajaman lawan membuat mereka harus pulang lebih awal.
Marsch mengakui kehilangan bintang Bayern Munich, Alphonso Davies, menjadi faktor krusial. Davies mengalami cedera hamstring saat latihan sehari sebelum pertandingan dan hasil MRI memastikan ia tak bisa tampil. “Dia lebih kecewa dari siapa pun, tapi keputusan untuk tidak memaksakannya adalah yang terbaik untuk kariernya,” ujar Marsch. Davies sendiri hanya bermain beberapa menit selama turnamen akibat masalah kebugaran.
Pertandingan berjalan sengit sejak menit awal. Kanada mendominasi babak pertama dan dianggap mampu mengontrol permainan tim peringkat tujuh dunia itu. “Hanya ada satu tim di lapangan,” kata Marsch. Namun, gol pembuka Maroko mengubah segalanya. Tim asuhan Walid Regragui kemudian bermain lebih bertahan, memaksa Kanada mengejar ketertinggalan dan membuka ruang bagi serangan balik.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Kanada yang bermain di kandang sendiri untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia. Meski demikian, Marsch menolak larut dalam kekecewaan. Ia justru menantang para pemain dan federasi untuk menjadikan turnamen ini sebagai batu loncatan. “Pertanyaannya, bisakah kami mempertahankan standar ini selama 90 menit? Bisakah kami membangun kedalaman skuad dan menciptakan DNA sepak bola Kanada?” tegasnya.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, melalui akun X-nya menyampaikan dukungan: “Tak ada yang lain selain kebanggaan… Sebuah perjalanan luar biasa dan pertanda akan apa yang akan datang.”
Bagi Indonesia, perjalanan Kanada memberikan pelajaran berharga. Tim yang sebelumnya dianggap underdog mampu bersaing dengan negara-negara elite sepak bola dunia. Keberhasilan Kanada menunjukkan pentingnya pembinaan jangka panjang, investasi pada pemain diaspora, dan keberanian pelatih untuk memainkan gaya menekan. Indonesia, yang tengah membangun fondasi sepak bola, dapat mencontoh pendekatan Kanada dalam mengelola talenta dan membangun mentalitas kompetitif.
Marsch menutup dengan optimisme: “Ini adalah hak istimewa memiliki tim nasional Kanada yang bersaing di level yang tak pernah terbayangkan 10 tahun lalu. Dengan kegembiraan itu datang ekspektasi yang lebih tinggi. Tak ada yang lebih kecewa dari kami, tapi kami harus terus berpikir bagaimana menjadi lebih baik.” Pertanyaan besarnya, mampukah Kanada mempertahankan momentum ini dan tidak kembali menjadi tim papan bawah seperti masa lalu?



