Cabo Verde Pulang dengan Kepala Tegak: Singkirkan Argentina Lewat Drama 120 Menit
Baca dalam 60 detik
- Cabo Verde, tim debutan Piala Dunia 2026, hampir menumbangkan juara bertahan Argentina sebelum akhirnya kalah 3-2 di babak perpanjangan waktu.
- Penampilan heroik tim asuhan Bubista mendapat pujian dari Lionel Messi dan menunjukkan bahwa sepak bola Afrika layak diperhitungkan di panggung global.
- Kegagalan Cabo Verde menjadi pelajaran bagi tim-tim Asia, termasuk Indonesia, bahwa mentalitas pantang menyerah bisa mengimbangi superioritas lawan.

Cabo Verde, tim debutan yang melesat bak meteor di Piala Dunia 2026, harus mengakui keunggulan Argentina setelah pertarungan sengit selama 120 menit di Miami, Jumat lalu. Skor akhir 3-2 untuk La Albiceleste, namun kekalahan itu justru mengukuhkan reputasi The Blue Sharks sebagai tim yang tak kenal menyerah.
Sejak awal turnamen, pelatih Bubista dan para pemainnya terus mengulang kata 'kompetitif' di setiap wawancara. Mereka membuktikannya di lapangan. Argentina, yang diunggulkan melenggang mulus, justru dipaksa bekerja keras hingga menit akhir. Bahkan Lionel Messi, bintang Argentina, mengakui kejutan yang diberikan Cabo Verde. "Mereka menekan kami dengan sangat baik. Tidak ada yang mudah di babak gugur," ujar Messi seusai laga.
Pertandingan berjalan dramatis. Argentina unggul lebih dulu melalui gol Messi di babak pertama, dan tampak menguasai permainan. Namun setelah jeda, Cabo Verde berubah total. Mereka bermain lebih agresif, memenangkan duel-duel individu, dan menyamakan kedudukan lewat gol Deroy Duarte dari sudut sempit. Babak kedua berakhir 1-1, memaksa perpanjangan waktu.
Di extra time, Argentina kembali unggul pada menit ke-92, namun Cabo Verde lagi-lagi menyamakan skor melalui tendangan indah bek kiri Sidny Lopes Cabral yang berubah fungsi menjadi winger. Sayang, gol bunuh diri dari Diney Borges yang membelokkan sundulan Cristian Romero pada akhirnya memastikan kemenangan Argentina. Pelatih Bubista tetap bangga: "Kami menunjukkan identitas kami, bermain dengan martabat."
Bagi Indonesia, perjalanan Cabo Verde menjadi cermin berharga. Tim debutan yang dianggap remeh mampu merepotkan juara bertahan, bahkan memaksa mereka bermain hingga batas akhir. Ini membuktikan bahwa sepak bola bukan sekadar nama besar, melainkan kerja keras, taktik, dan keyakinan. Timnas Indonesia, yang tengah membangun fondasi menuju Piala Dunia 2034, bisa menimba inspirasi dari semangat The Blue Sharks.
Penampilan Cabo Verde juga menimbulkan pertanyaan tentang kesenjangan kualitas di Piala Dunia. Apakah turnamen ini masih didominasi oleh tim-tim Eropa dan Amerika Selatan, ataukah Afrika mulai menunjukkan taringnya? Jawabannya mungkin belum tuntas, tetapi Cabo Verde telah membuka mata banyak pihak. Mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan ancaman nyata.
Ke depan, Argentina akan menghadapi lawan yang lebih berat di perempat final. Namun bagi Cabo Verde, perjalanan mereka baru saja dimulai. Dengan pemain-pemain muda yang tampil tanpa rasa takut, masa depan sepak bola negara kepulauan itu tampak cerah. Pertanyaan besarnya: akankah Indonesia bisa mengikuti jejak mereka?



