Paris Jackson Buka Suara: Terapi Kejut Listrik untuk Depresi, Efek Sampingnya 'Mengerikan'
Baca dalam 60 detik
- Putri Michael Jackson mengaku menjalani sembilan sesi terapi elektrokonvulsif (ECT) dalam tiga minggu setelah nyaris mengakhiri hidupnya.
- Meski ECT dianggap efektif untuk depresi berat, Paris mengalami nyeri tajam di kepala dan kehilangan ingatan jangka pendek, sehingga memilih menghentikannya.
- Kini ia beralih ke pendekatan holistik dan integratif, menekankan pentingnya menggabungkan pengalaman terapi dengan perubahan gaya hidup.

Paris Jackson, putri mendiang Michael Jackson, secara terbuka menceritakan pengalamannya menjalani terapi elektrokonvulsif (ECT) yang ia gambarkan sebagai proses menyakitkan. Dalam wawancara dengan podcast On Purpose milik Jay Shetty, musisi berusia 28 tahun itu mengungkapkan bahwa ia sempat berada di ambang percobaan bunuh diri sebelum akhirnya memilih terapi kejut listrik sebagai upaya terakhir untuk mengatasi depresi berat yang dideritanya.
Paris, yang telah menjalani hidup bersih dari alkohol dan obat-obatan selama enam tahun, menceritakan detail prosedur ECT yang ia jalani sebanyak sembilan sesi dalam rentang waktu tiga minggu. Ia harus mengganti seluruh perhiasan logam di wajahnya dengan plastik, dibius total, diikat, dan diberikan pelindung mulut sebelum aliran listrik dialirkan ke otaknya. Meski mengakui metode ini jauh lebih manusiawi dibanding era sebelumnya, ia tetap merasakan sakit yang luar biasa saat terbangun dari setiap sesi.
"Sakit yang paling tajam yang pernah saya rasakan di dalam kepala," ujarnya, menggambarkan sensasi setelah tersengat listrik. Yang lebih mengkhawatirkan, ia kehilangan ingatan tentang kunjungan teman-temannya beberapa hari setelah perawatan. "Mereka datang, tapi saya tidak ingat sama sekali. Saya punya bukti foto, tapi percakapan kami hilang dari ingatan saya," tambahnya.
Sebelum memutuskan menjalani ECT, Paris mengaku telah mencoba berbagai metode pengobatan, mulai dari konsumsi obat-obatan secara bergantian hingga menjalani perawatan di lima institusi berbeda. Ia juga pernah mengikuti terapi perilaku dialektis (DBT), desensitisasi gerakan mata (EMDR), dan menggunakan CBD. Namun, semua itu dirasakannya tidak cukup untuk meredakan gejalanya.
Keputusan untuk menghentikan ECT, menurut Paris, bukan karena terapi itu tidak efektif. Ia justru mengakui bahwa ECT membantu memperbaiki neuroplastisitas otak dan dianggap sebagai salah satu metode paling efektif untuk depresi. Namun, jadwal perawatan yang mengharuskannya menjalani kejut listrik setiap bulan terasa tidak masuk akal bagi kehidupannya. "Itu tidak akan berhasil untukku," tegasnya.
Kini, Paris memilih pendekatan integratif yang menggabungkan berbagai metode penyembuhan, termasuk terapi holistik. Ia menekankan pentingnya mengintegrasikan pelajaran dari setiap pengalaman terapi ke dalam kehidupan sehari-hari. "Tanpa integrasi, saya terus memburuk," katanya, menyiratkan bahwa penyembuhan mental bukan sekadar menghilangkan gejala, melainkan juga membangun fondasi kesehatan mental yang berkelanjutan.
Kisah Paris Jackson menyoroti perjuangan panjang yang sering kali tersembunyi di balik kehidupan publik. Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental memang semakin meningkat, namun akses terhadap terapi seperti ECT masih terbatas dan kerap dianggap tabu. Padahal, untuk kasus depresi berat yang resisten terhadap obat, ECT bisa menjadi pilihan yang menyelamatkan nyawa. Pertanyaannya, apakah sistem kesehatan dan masyarakat Indonesia siap menerima metode ini sebagai bagian dari solusi, atau justru masih terbelenggu stigma?



