Uncal Enggano: Burung Endemik yang Jadi Kunci Regenerasi Hutan Pulau Terluar
Baca dalam 60 detik
- Uncal enggano (Macropygia cinnamomaea) adalah burung endemik Pulau Enggano yang berperan vital dalam penyebaran biji dan regenerasi hutan.
- Statusnya hampir terancam (Near Threatened) menurut BirdLife, namun data ekologi spesies ini masih minim pasca pemisahannya sebagai spesies mandiri.
- Konservasi uncal enggano menjadi krusial karena pulau Enggano yang terisolasi memiliki keunikan flora yang bergantung pada burung ini.

Di balik bulu cokelat keabu-abuan yang tampak biasa dan suara yang tak semerdu burung kicau, uncal enggano menyimpan peran ekologis yang luar biasa: menjadi agen regenerasi hutan di Pulau Enggano, Bengkulu. Burung endemik yang hanya bisa ditemukan di pulau seluas sekitar 40 ribu hektar ini kini menghadapi ancaman kepunahan, sementara data ilmiah tentang kebiasaannya masih terbatas.
Pulau Enggano, yang diakui secara internasional sebagai Important Bird and Biodiversity Areas (IBAs), menjadi satu-satunya rumah bagi burung bernama latin Macropygia cinnamomaea ini. Menurut Zulqarnain Assidiqqi, Direktur Endemic Indonesia Society, di pulau tersebut hanya ada satu spesies uncal, sehingga fungsinya sangat sentral dalam ekosistem hutan. “Keberadaan hutan sehat jadi syarat utama kelangsungan hidupnya,” ujarnya.
Uncal enggano termasuk dalam keluarga merpati (Columbidae) yang memiliki daya jelajah luas. Mereka tidak bergantung pada satu pohon, melainkan berpindah mengikuti musim buah di hutan. Saat mencari makan, burung ini menelan buah kecil secara utuh, sehingga biji sering lolos dari proses pencernaan dan tersebar bersama kotoran di lokasi yang berbeda. Mekanisme ini menjadi kunci regenerasi hutan, terutama bagi tumbuhan yang bijinya hanya bisa berkecambah setelah melewati saluran pencernaan burung.
Zulvan Zaviery, pegiat lingkungan Pulau Enggano, menambahkan bahwa uncal kini mulai beradaptasi dengan perubahan bentang alam. Burung ini kerap terlihat di kebun warga yang berbatasan dengan hutan, mencari jagung, padi, dan pisang. Namun, ketergantungannya pada habitat alami tetap tinggi, berbeda dengan burung pemakan biji di perkotaan. “Di hutan, mereka lebih menyukai buah-buahan liar, seperti buah pohon nelung yang sebesar jagung,” jelasnya.
Meski perannya vital, kesenjangan informasi ilmiah tentang uncal enggano masih lebar. Sejak dipisahkan menjadi spesies tersendiri, belum ada penelitian menyeluruh mengenai tumbuhan apa yang paling bergantung padanya. “Kita belum tahu pola ekologinya secara detail,” kata Zulqarnain. Padahal, Pulau Enggano yang terisolasi selama ribuan tahun memiliki flora yang berkembang khas, sehingga kemungkinan hubungan simbiosis antara uncal dan tumbuhan tertentu sangat erat.
Bagi Indonesia, keberadaan uncal enggano bukan sekadar soal keanekaragaman hayati. Pulau Enggano merupakan wilayah terluar yang berbatasan dengan Samudra Hindia, menjadikannya garda depan ekologis. Jika burung ini punah, rantai regenerasi hutan bisa terganggu, berdampak pada keseimbangan ekosistem dan ketahanan pulau terhadap perubahan iklim. Penelitian lebih lanjut tentang asosiasi tumbuhan-uncal menjadi mendesak untuk merumuskan strategi konservasi yang tepat.
Pertanyaan yang menggantung: akankah keterbatasan data dan ancaman habitat membuat uncal enggano menyusul nasib burung endemik lain yang punah? Atau justru kesadaran akan peran ekologisnya mendorong langkah perlindungan yang lebih konkret?



