Studi Baru Bongkar Mitos Hobbit Flores: Pemulung Sisa Buruan Komodo, Bukan Pemburu Ulung
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru di Science Advances mengungkap Homo floresiensis lebih sering memulung sisa bangkai Stegodon dari komodo daripada berburu sendiri.
- Analisis bekas gigitan pada ribuan fragmen tulang menunjukkan komodo memiliki akses utama ke bagian berdaging, sementara hobbit hanya mendapat bagian bernilai rendah.
- Temuan ini mempertanyakan ulang asumsi tentang kemampuan kognitif dan perilaku manusia purba Flores, sekaligus membuka agenda riset baru di situs lain.

Selama lebih dari dua dekade, Homo floresiensis—manusia purba bertubuh mini asal Flores yang dijuluki "hobbit"—diyakini sebagai pemburu tangguh yang mampu menjatuhkan hewan besar dan mengendalikan api. Namun sebuah studi mutakhir yang diterbitkan di jurnal Science Advances justru membalikkan narasi tersebut: spesies dengan tinggi sekitar satu meter itu kemungkinan besar hanyalah pemulung yang mengais sisa-sisa buruan komodo.
Tim peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan dari National Museum of Natural History, Smithsonian Institution, menganalisis lebih dari 3.100 fragmen tulang Stegodon florensis insularis—gajah kerdil purba—dan hampir 7.000 sisa tulang tikus dari Gua Liang Bua, Flores. Untuk membedakan bekas gigitan komodo dari sayatan alat batu manusia, mereka melakukan eksperimen unik: mengamati langsung seekor komodo bernama Rinca di Zoo Atlanta saat menyantap bangkai kambing, lalu memindai tulang-tulang sisa dengan scanner 3D dan membandingkannya dengan fosil Stegodon menggunakan model komputer.
Hasilnya mengungkap kemiripan signifikan antara bekas gigitan pada tulang kambing modern dan tulang Stegodon purba, terutama di bagian yang paling berdaging. Sebaliknya, bekas sayatan alat batu Homo floresiensis justru lebih sering ditemukan pada tulang bernilai rendah seperti rusuk dan kaki. "Komodo kemungkinan memiliki akses utama terhadap bangkai tersebut, hanya menyisakan bagian bernilai rendah untuk dipulung oleh Homo floresiensis," tulis para peneliti dalam laporan mereka.
Selain soal pola makan, studi ini juga menggugurkan bukti penggunaan api oleh hobbit Flores. Tulang yang sebelumnya diduga gosong akibat pembakaran ternyata hanya berubah warna karena mineral alami. "Tidak ada tanda penggunaan api secara sengaja pada lapisan stratigrafi yang berkaitan dengan Homo floresiensis," tegas tim peneliti. Temuan ini mematahkan argumen bahwa spesies berotak kecil itu sudah menguasai teknologi kompleks.
Bagi Indonesia, riset ini memiliki arti penting karena Flores merupakan salah satu laboratorium paleoantropologi paling menarik di dunia. Penemuan Homo floresiensis pada 2003 telah mengubah pemahaman global tentang evolusi manusia, dan studi terbaru menunjukkan bahwa masih banyak misteri yang belum terpecahkan. Para peneliti menekankan bahwa tidak adanya bukti api di Liang Bua bukan berarti hobbit tidak pernah menggunakan api di lokasi lain, dan pola pemulungan tidak menutup kemungkinan sesekali mereka berburu hewan muda atau lemah.
"Pertanyaan tentang seberapa jauh kemampuan kognitif dan perilaku Homo floresiensis masih jauh dari terjawab. Penelitian lanjutan di situs lain di Flores, ditambah analisis lebih rinci terhadap alat-alat batu, sangat dibutuhkan," demikian pernyataan tim peneliti dalam laporan mereka.
Ke depan, studi ini membuka pintu bagi ekspedisi arkeologi baru di Pulau Flores dan sekitarnya. Apakah hobbit benar-benar bergantung pada sisa buruan komodo, ataukah mereka memiliki strategi berburu yang lebih canggih di habitat lain? Hanya penelitian lebih lanjut yang dapat mengungkap tabir kehidupan manusia purba yang menghuni Indonesia timur hingga sekitar 50.000 tahun lalu.



