Uji Klinis Obat Ebola Baru Dimulai di Kongo, WHO Pimpin Langkah Besar Lawan Wabah
Baca dalam 60 detik
- WHO bersama mitra meluncurkan uji klinis PARTNERS di Kongo untuk menguji dua obat antivirus melawan virus Bundibugyo, varian Ebola yang belum memiliki terapi khusus.
- Wabah Bundibugyo telah menginfeksi lebih dari 1.400 orang dan menewaskan sekitar 440 jiwa, mendorong percepatan riset pengobatan.
- Desain uji coba adaptif memungkinkan penambahan terapi baru selama wabah berlangsung, dengan hasil potensial dalam hitungan bulan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan dimulainya uji klinis internasional untuk mencari pengobatan efektif bagi penyakit virus Bundibugyo (BVD), varian Ebola langka yang tengah mewabah di Republik Demokratik Kongo. Langkah ini diambil di tengah tekanan wabah yang telah menelan ratusan korban jiwa dan belum adanya terapi yang disetujui secara spesifik untuk jenis virus tersebut.
Uji coba yang dinamakan PARTNERS (Platform Adaptive Randomised Trial for New and Repurposed Filovirus Treatments) ini mulai merekrut pasien pada Kamis lalu. Dua kandidat obat yang diuji adalah antibodi monoklonal MBP134 dan remdesivir, obat antivirus yang sebelumnya digunakan untuk Ebola jenis lain. Peneliti juga akan menguji apakah kombinasi keduanya memberikan manfaat lebih besar dibandingkan penggunaan tunggal.
Wabah Bundibugyo di Kongo telah menginfeksi lebih dari 1.400 orang, dengan sekitar 210 pasien dinyatakan sembuh dan 440 lainnya meninggal dunia. Angka kematian yang tinggi ini menekankan urgensi pengembangan terapi. Meskipun obat untuk beberapa spesies Ebola sudah ada, belum ada satu pun yang terbukti efektif melawan semua varian, termasuk Bundibugyo.
Uji coba ini dikoordinasikan oleh Institut National pour la Recherche Biomรฉdicale (INRB) di Kongo, Institute of Tropical Medicine di Belgia, dan Universitas Oxford di Inggris. Dukungan juga datang dari Africa CDC serta mitra riset dan kemanusiaan internasional lainnya. Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Ghebreyesus, menyatakan bahwa meskipun beberapa pasien sembuh tanpa pengobatan spesifik, obat yang efektif dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Prof. Amanda Rojek, pimpinan operasional uji coba dari Pandemic Sciences Institute Universitas Oxford, menekankan bahwa pelajaran dari wabah sebelumnya adalah riset harus berjalan bersamaan dengan respons darurat, bukan setelahnya. Dengan desain adaptif, PARTNERS dapat mengevaluasi terapi baru segera setelah bukti ilmiah tersedia, sehingga hasil dapat diperoleh dalam hitungan bulan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat potensi penyebaran virus Ebola melalui perjalanan internasional dan keterbatasan infrastruktur kesehatan di negara berkembang. Meskipun belum ada kasus di Indonesia, pengalaman menangani wabah seperti COVID-19 menunjukkan pentingnya kesiapan terapi antivirus dan kolaborasi global. Pemerintah Indonesia dapat memantau hasil uji coba ini sebagai referensi untuk kesiapsiagaan menghadapi penyakit menular emerging.
Menteri Kesehatan Kongo, Dr Samuel Kamba, menyebut peluncuran PARTNERS sebagai tonggak penting bagi respons kesehatan masyarakat negaranya. Ia optimistis temuan uji coba dapat mengidentifikasi terapi yang lebih efektif, menyelamatkan jiwa selama wabah saat ini, dan memperkuat kesiapsiagaan global menghadapi epidemi Ebola di masa depan. Pertanyaan yang tersisa: akankah hasil uji coba ini mampu mengubah paradigma penanganan wabah di Afrika dan dunia?



