Vaksin BCG Picu Perubahan Imunitas Otak dan Biomarker Alzheimer: Studi Awal
Baca dalam 60 detik
- Studi kecil selama setahun pada 23 lansia menunjukkan vaksin BCG meningkatkan respons imun di cairan serebrospinal tanpa memicu peradangan kronis.
- Pada partisipan tanpa patologi Alzheimer, kadar beta-amiloid di cairan otak menurun sementara di darah meningkat, mengindikasikan potensi pembersihan protein dari otak.
- Temuan ini belum membuktikan BCG mencegah Alzheimer, tetapi membuka jalan riset imunoterapi untuk kesehatan otak di usia lanjut.

Vaksin Bacillus Calmette-Guérin (BCG), yang selama seabad lebih digunakan untuk mencegah tuberkulosis, kembali menarik perhatian para peneliti karena efek non-spesifiknya pada sistem imun. Sebuah studi klinis kecil dari Mass General Brigham mengungkap bahwa vaksin ini mampu mengubah aktivitas imun di sekitar otak dan memengaruhi kadar protein yang terkait erat dengan penyakit Alzheimer pada lansia yang belum menunjukkan tanda-tanda gangguan kognitif.
Penelitian yang dipublikasikan di Communications Medicine ini melibatkan 23 partisipan berusia 55 tahun ke atas yang dipantau selama 12 bulan setelah menerima vaksinasi BCG. Sebanyak 12 orang tidak memiliki bukti patologi Alzheimer, sementara 11 lainnya memiliki biomarker yang mengindikasikan adanya penyakit tersebut. Sayangnya, studi ini bersifat open-label tanpa kelompok plasebo, sehingga hasilnya masih perlu divalidasi dengan uji coba acak terkontrol yang lebih besar.
Temuan kunci menunjukkan bahwa BCG meningkatkan responsivitas sel imun di darah dan cairan serebrospinal (CSF) saat menghadapi tantangan imun berikutnya. Yang menarik, peningkatan aktivitas ini tidak disertai dengan kenaikan penanda peradangan. Menurut peneliti utama Marc Weinberg, MD, PhD, hal ini penting karena peradangan kronis di otak justru diduga memperburuk penyakit Alzheimer. “BCG membuat sel imun lebih responsif tanpa memicu aktivasi peradangan yang berkepanjangan di CSF,” jelas Weinberg.
Perubahan signifikan juga terlihat pada kadar beta-amiloid, protein yang jika menumpuk di otak dapat memicu penurunan kognitif. Pada partisipan tanpa patologi Alzheimer, kadar beta-amiloid di CSF menurun sementara di darah meningkat. Pola ini mengindikasikan kemungkinan perbaikan mekanisme pembersihan protein dari sistem saraf pusat ke aliran darah. Namun, Weinberg mengingatkan bahwa studi ini tidak mengukur langsung pembersihan beta-amiloid, sehingga interpretasi harus hati-hati.
Menariknya, efek ini tidak terlihat pada partisipan yang sudah memiliki biomarker Alzheimer. “Sekali patologi terbentuk, jalur yang mengatur beta-amiloid mungkin sudah rusak atau kurang adaptif,” kata Weinberg. Ini menunjukkan bahwa BCG mungkin lebih efektif jika diberikan sebelum perubahan Alzheimer terjadi, menyoroti pentingnya waktu intervensi untuk strategi pencegahan di masa depan.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat BCG merupakan vaksin wajib dalam program imunisasi nasional sejak 1953. Jika riset lanjutan membuktikan manfaatnya terhadap kesehatan otak, maka populasi lansia Indonesia yang sudah menerima BCG di masa kecil berpotensi mendapat perlindungan tambahan. Namun, para ahli menekankan bahwa studi ini masih bersifat eksploratif dan belum bisa dijadikan dasar rekomendasi klinis.
Weinberg menganalogikan mekanisme BCG seperti sistem keamanan bandara yang menjadi lebih waspada setelah peringatan kredibel, tanpa berada dalam keadaan siaga penuh. “Imunitas terlatih (trained immunity) ini mungkin membantu sel imun bawaan merespons perubahan terkait penyakit dengan lebih efektif, bukan hanya infeksi,” ujarnya. Peneliti berharap temuan ini menjadi fondasi untuk uji coba plasebo-acak yang lebih besar guna memastikan apakah perubahan biologis ini benar-benar berdampak pada penurunan risiko Alzheimer atau perbaikan fungsi kognitif.
Pertanyaan yang masih menggantung: akankah vaksin berusia seabad ini menjadi senjata baru dalam perang melawan demensia? Jawabannya masih menunggu bukti klinis yang lebih kuat.



