Minum Kopi 5 Cangkir Sehari: Risiko Sirosis Hati dan Kanker Hati Turun Drastis
Baca dalam 60 detik
- Studi terhadap 355.000 partisipan menunjukkan konsumsi kopi lima cangkir atau lebih per hari menurunkan risiko sirosis hati hingga 32% dan kanker hati hampir 50%.
- Manfaat kopi tidak hanya bergantung pada kafein; kopi tanpa kafein pun memberikan efek perlindungan serupa melalui senyawa bioaktif seperti polifenol.
- Temuan ini membuka peluang bagi pengembangan rekomendasi pola hidup sehat hati, termasuk bagi masyarakat Indonesia yang rentan terhadap penyakit hati.

Lima cangkir kopi sehari bukan lagi sekadar kebiasaan penikmat kafein, melainkan bisa menjadi tameng serius bagi kesehatan hati. Sebuah studi terbaru yang melibatkan lebih dari 355.000 orang dewasa di Inggris menemukan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah tersebut berkaitan dengan penurunan risiko sirosis hati hingga 32%, risiko kanker hati hampir 50%, dan kematian terkait hati sebesar 42% dibandingkan mereka yang tidak minum kopi sama sekali.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology ini menganalisis data dari UK Biobank selama rata-rata 13 tahun. Partisipan yang bebas dari sirosis dan kanker hati di awal studi diminta melaporkan kebiasaan minum kopi mereka. Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten: semakin banyak kopi yang dikonsumsi, semakin rendah risiko penyakit hati.
Hyunseok Kim, MD, MPH, PhD, penulis utama studi sekaligus ahli hepatologi di Cedars-Sinai Medical Center, California, menegaskan bahwa temuan ini memperkuat bukti bahwa kopi berpotensi menjadi komponen penting dalam gaya hidup sehat hati. "Kami mengamati hubungan dosis-respons, di mana asupan kopi yang lebih tinggi terkait dengan risiko yang semakin rendah," ujarnya.
Keunggulan studi ini terletak pada penggunaan pencitraan MRI dan analisis proteomik darah. Partisipan yang minum kopi menunjukkan kadar lemak hati lebih rendah, peradangan berkurang, dan biomarker fibrosis yang lebih baik. "Ini adalah aspek paling baru dari penelitian kami. Kami tidak hanya mengandalkan hasil klinis, tetapi juga bukti biologis langsung," jelas Kim.
Menariknya, efek perlindungan ini tidak hanya berasal dari kafein. Kopi tanpa kafein pun menunjukkan hasil serupa, menandakan bahwa senyawa bioaktif lain seperti asam klorogenat, polifenol, dan diterpen berperan besar. "Senyawa ini dapat mengurangi stres oksidatif, peradangan kronis, dan fibrosis hati, serta meningkatkan fungsi metabolisme," tambah Kim.
Meridan Zerner, ahli gizi dari Dallas yang tidak terlibat dalam studi, menjelaskan bahwa kopi juga meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu mengatur gula darah. "Kandungan antioksidan dan senyawa tanaman dalam kopi bekerja secara sinergis untuk menekan peradangan dan memperlambat perkembangan fibrosis," katanya. Namun, ia mengingatkan bahwa kopi bukanlah pengganti pola hidup sehat secara keseluruhan.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi tinggi. Prevalensi penyakit hati, termasuk sirosis dan kanker hati, masih cukup tinggi di Tanah Air, sering kali dipicu oleh infeksi hepatitis B dan C serta konsumsi alkohol. Kopi, yang sudah menjadi bagian dari budaya minum masyarakat Indonesia, bisa menjadi intervensi murah dan mudah diakses. Meski demikian, para ahli menekankan perlunya penelitian lebih lanjut, terutama uji acak terkontrol, untuk menentukan dosis dan jenis kopi yang paling efektif.
Ke depan, penelitian diharapkan bisa merambah ke ranah personalisasi: bagaimana faktor genetik, mikrobioma usus, dan resistensi insulin memengaruhi respons individu terhadap kopi. Pertanyaan yang masih mengemuka: apakah manfaat ini bisa dioptimalkan dengan pola konsumsi tertentu, atau justru ada kelompok yang tidak merasakan efek serupa? Jawabannya akan menentukan apakah kopi layak diresepkan sebagai bagian dari terapi pencegahan penyakit hati.



