Singapura Targetkan 1 Juta Warga Terlatih CPR dalam Lima Tahun
Baca dalam 60 detik
- Singapore Heart Foundation menargetkan satu juta warga terlatih CPR dalam lima tahun, naik dari 270.000 saat ini.
- Hingga 80% henti jantung terjadi di luar rumah sakit, dengan tingkat kesintasan turun 10% per menit tanpa CPR.
- Program pelatihan massal dan AED portabel diharapkan meningkatkan respons darurat masyarakat.

Singapore Heart Foundation (SHF) menetapkan target ambisius untuk melatih satu juta warga sebagai penanggap pertama komunitas dalam lima tahun ke depan, merespons peningkatan kasus henti jantung di luar rumah sakit yang mencapai rekor 4.058 kasus pada 2022—naik 12 persen dari tahun sebelumnya. Langkah ini dinilai krusial mengingat hampir 80 persen serangan jantung terjadi di rumah atau tempat umum, di mana setiap menit tanpa resusitasi jantung paru (CPR) menurunkan peluang hidup korban hingga 10 persen.
Saat ini, baru sekitar 270.000 penanggap terdaftar di aplikasi myResponder milik Singapore Civil Defence Force (SCDF). Untuk mencapai target satu juta, SHF akan melatih 170.000 mahasiswa di perguruan tinggi dan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan untuk membekali 300.000 remaja dengan keterampilan CPR. Hingga awal tahun ini, SHF telah melatih sekitar 4.500 orang dan menargetkan 10.000 pada akhir 2026. Sebagai bagian dari kampanye, pada Oktober mendatang akan digelar acara pelatihan massal gratis bernama Project Heart yang menargetkan 1.000 peserta dalam sehari.
Direktur Eksekutif SHF Geoffrey Ong menekankan bahwa jika satu juta warga terlatih, hampir setiap rumah tangga akan memiliki satu anggota yang mampu melakukan CPR. “Pelatihan ini bukan hanya soal keterampilan, tapi membangun keberanian untuk bertindak,” ujarnya. Selain menyasar institusi pendidikan, SHF juga akan menggandeng penyedia pelatihan vokasi dan perusahaan untuk menjangkau lebih banyak pekerja.
Salah satu penanggap paling aktif adalah Joshua Hiew, remaja 15 tahun yang telah merespons lebih dari 50 keadaan darurat jantung melalui aplikasi myResponder sejak belajar CPR dan penggunaan AED pada 2024. Ia mengendarai sepeda yang dilengkapi alat penyelamat dan lampu strobo untuk memberi jalan. “Saya gugup, tapi harus tetap tenang. Kami berusaha memberikan korban peluang bertahan hidup sebesar mungkin,” katanya. Atas dedikasinya, Joshua menerima tiga penghargaan dari SCDF pada 2025 dan 2026.
Meski jumlah penanggap komunitas meningkat pesat—dari 302 orang pada 2011 menjadi lebih dari 2.515 pada 2022—penggunaan AED masih rendah. Banyak warga ragu menggunakan alat defibrilasi eksternal otomatis karena takut melakukan kesalahan. Padahal, AED modern dilengkapi panduan suara langkah demi langkah. “Saat dinyalakan, alat ini memberikan instruksi jelas,” jelas Ong. Selain itu, kesadaran akan lokasi AED juga masih kurang. Saat ini terdapat lebih dari 10.000 AED publik di blok HDB, stasiun MRT, terminal bus, dan fasilitas umum, yang dapat dicari melalui aplikasi myResponder dalam radius 400 meter.
Untuk meningkatkan aksesibilitas, peneliti dari Duke-NUS Medical School mengembangkan AED portabel generasi baru seberat 700 gram yang bisa dibawa ke mana saja—mirip kotak P3K. Profesor Marcus Ong, direktur pusat penelitian pra-rumah sakit dan darurat, memimpin studi yang melibatkan 1.000 sukarelawan untuk menguji perangkat ini. “AED portabel ini memiliki komputer kecil yang menganalisis irama jantung dan memutuskan apakah perlu kejut listrik. Keputusan ada pada mesin, bukan pengguna,” jelasnya. Jika berhasil, perangkat ini akan diproduksi massal dan tersedia untuk publik.
Peningkatan kapasitas penanggap pertama komunitas ini menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia, di mana angka kematian akibat henti jantung mendadak juga tinggi. Minimnya pelatihan CPR dan ketersediaan AED di ruang publik masih menjadi tantangan. Inisiatif Singapura menunjukkan bahwa kombinasi pelatihan massal, teknologi tepat guna, dan kemitraan lintas sektor dapat secara signifikan meningkatkan respons darurat. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mengadopsi model serupa untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa?



