Bono Beri Mobil, Penelope Cruz Akhirnya Pertimbangkan Ambil SIM di Usia 52
Baca dalam 60 detik
- Aktris Penelope Cruz, yang selama puluhan tahun fobia mengemudi akibat trauma masa kecil, mulai berpikir untuk mengambil SIM setelah menerima hadiah mobil dari vokalis U2, Bono.
- Trauma Cruz berakar dari kecelakaan yang menimpa adiknya saat ia berusia delapan tahun, membuatnya enggan bahkan sekadar menjadi penumpang.
- Kisah Cruz menyoroti amaxophobia dan vehophobia, dua jenis fobia berkendara yang diakui secara klinis, serta pentingnya dukungan sosial dalam mengatasi trauma.

Pada usia 52 tahun, Penelope Cruz akhirnya membuka pintu untuk belajar mengemudi—sebuah langkah yang selama puluhan tahun terhalang oleh trauma masa kecil. Keputusan ini muncul setelah vokalis U2, Bono, memberinya sebuah mobil sebagai hadiah ulang tahun pada April lalu.
Aktris yang dikenal lewat film Volver dan Vicky Cristina Barcelona itu mengakui bahwa ia memiliki ketakutan mendalam terhadap aktivitas mengemudi. Fobia ini berakar dari peristiwa ketika adik perempuannya, Monica, tertabrak mobil di depannya saat Cruz masih berusia delapan atau sembilan tahun. “Waktu itu berhenti,” kenangnya dalam wawancara dengan Elle pada 2024. “Saya melihat dia kehilangan kesadaran. Itu trauma besar.”
Dalam acara Hot Ones, Cruz menceritakan bahwa hadiah dari Bono menjadi dorongan psikologis yang kuat. “Setelah Anda mendapat mobil dari Bono, masakan Anda tidak mengambil SIM? Gila sekali,” ujarnya. Namun, ia tetap jujur bahwa ketakutannya masih sangat dalam. Bahkan sekadar menjadi penumpang pun kerap membuatnya cemas: “Setiap kali naik mobil, saya berpikir, ‘Oke, kita mulai. Apakah kita akan sampai atau tidak?’”
Menurut Cleveland Clinic, ketakutan intens dan menetap terhadap mengemudi atau naik kendaraan secara klinis disebut amaxophobia, sementara vehophobia merujuk pada ketakutan spesifik saat mengoperasikan kendaraan. Cruz sendiri mengaku bahwa ia memiliki hipersensitivitas terhadap penderitaan orang lain, yang membuatnya merasakan emosi secara lebih kuat. “Ini salah satu hal utama yang saya tangani dalam terapi: bagaimana menyeimbangkan agar tetap bisa merasakan hal-hal itu tanpa menjadikannya milik saya,” tuturnya.
Kisah Cruz membuka diskusi tentang fobia berkendara yang sebenarnya cukup umum, namun jarang dibicarakan secara terbuka. Di Indonesia, misalnya, data kepolisian menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas masih menjadi salah satu penyebab trauma psikologis bagi korban dan saksi mata. Namun, kesadaran akan fobia spesifik seperti amaxophobia masih rendah. Banyak orang mungkin mengalami gejala serupa tanpa tahu bahwa kondisi tersebut memiliki nama dan dapat diatasi melalui terapi kognitif atau paparan bertahap.
Langkah Cruz yang mulai “berpikir” untuk belajar mengemudi setelah bertahun-tahun menghindar menunjukkan bahwa dukungan dari orang terdekat—bahkan dalam bentuk hadiah simbolis—dapat menjadi katalis perubahan. Namun, pertanyaan yang tersisa: apakah tekanan sosial dari hadiah semewah itu cukup untuk mengatasi trauma yang mengakar, atau justru akan menambah beban psikologis? Bagi Cruz, jawabannya mungkin akan ditemukan di kursi pengemudi.



