Gejala Menopause Hampir Hentikan Karier Davina McCall di Layar Kaca
Baca dalam 60 detik
- Davina McCall nyaris pensiun dari dunia hiburan karena gejala menopause yang parah, termasuk gangguan memori dan penglihatan.
- Terapi hormon (HRT) memulihkan kondisinya, meski ia sempat ragu karena riwayat kanker payudara.
- Kisahnya membuka diskusi tentang dampak menopause pada produktivitas kerja, relevan bagi pekerja perempuan di Indonesia.

Davina McCall, pembawa acara dan juri The Masked Singer, mengaku nyaris meninggalkan industri televisi akibat gejala menopause yang melumpuhkan. Dalam wawancara dengan The Sun on Sunday, perempuan 58 tahun itu menceritakan bagaimana perubahan hormon memicu gangguan emosi, daya ingat, hingga penglihatan yang membuatnya ragu mampu tampil di depan kamera.
McCall, yang memiliki tiga anak dari pernikahan pertamanya dengan Matthew Robertson, mengaku kesulitan membaca teks di autocue saat syuting acara Stepping Out. Ia bahkan lupa nama Laurence Llewelyn-Bowen, figur publik yang seharusnya mudah dikenali. “Saya seperti, ‘Ya Tuhan, ini acara langsung.’ Saya terpaksa memanggilnya ‘Anda’,” ujarnya. Insiden itu memicu rasa malu yang asing baginya, hingga ia menangis histeris begitu kru meninggalkan ruangan.
Gejala mental yang ia alami—bukan sekadar nyeri fisik—membuat McCall mempertanyakan kemampuannya. “Ini bukan keringat dingin, nyeri sendi, atau jantung berdebar. Ini murni psikologis, tapi sangat nyata dan mengganggu,” katanya. Ia bahkan sulit menikmati momen bersama putri-putrinya yang tertawa lepas, karena merasa kehilangan kegembiraan.
Kesembuhan McCall datang setelah menjalani terapi penggantian hormon (HRT). Ia mengaku kembali menjadi dirinya sendiri. “Saya 58 tahun dan sudah melewati masa sulit itu,” ujarnya. Namun, keputusan untuk tetap menggunakan HRT tidak mudah. McCall didiagnosis kanker payudara tahun lalu dan sempat ragu karena kekhawatiran hormon estrogen dapat memicu pertumbuhan kanker. Setelah berkonsultasi dengan onkolog dan dokter menopause, ia memutuskan tetap menjalani HRT karena membantu menjaga pembuluh darahnya, mengingat ia juga memiliki penyakit kardiovaskular.
“Kanker payudara dan HRT memang isu besar. Banyak orang takut. Tapi HRT tidak memberi Anda kanker. Namun, jika Anda memiliki kanker reseptor estrogen, estrogen bisa mempercepat pertumbuhannya,” jelas McCall. Ia kini rutin melakukan mammogram dan USG untuk memantau kesehatannya. “Saya sangat waspada. Setiap orang punya perjalanan berbeda,” tambahnya.
Kisah McCall menyoroti dampak menopause yang kerap dianggap tabu, terutama di lingkungan kerja. Di Indonesia, diskusi tentang menopause di tempat kerja masih minim, padahal gejala seperti kelelahan, sulit konsentrasi, dan perubahan suasana hati dapat memengaruhi produktivitas. Banyak perempuan memilih diam karena stigma atau kurangnya dukungan dari atasan. Pengalaman McCall menunjukkan pentingnya akses ke terapi yang tepat dan lingkungan kerja yang suportif.
Ke depan, keterbukaan figur publik seperti McCall diharapkan mendorong lebih banyak perusahaan di Indonesia untuk menyediakan kebijakan ramah menopause, seperti fleksibilitas jam kerja atau konsultasi kesehatan. Pertanyaannya, akankah dunia kerja di Indonesia siap mengakomodasi kebutuhan ini?



