Ketika Sirkuit Menjadi Rumah: Silverstone Siapkan Zona Khusus untuk Penggemar Neurodivergen
Baca dalam 60 detik
- Silverstone menyediakan area khusus bernama Copse Triangle bagi penggemar Formula 1 yang neurodivergen, dengan kapasitas terbatas dan suasana tanpa stigma.
- Lebih dari 20% permohonan tiket aksesibilitas di Silverstone kini berasal dari penggemar neurodivergen, mendorong sirkuit untuk terus beradaptasi selama satu dekade terakhir.
- Rencana FIA mengembalikan mesin V8 yang lebih bising pada 2030/2031 berpotensi mengusik kenyamanan penggemar autis yang terbiasa dengan mesin hybrid yang lebih senyap.

Bagi Joshua, bocah sembilan tahun dengan autisme dan ADHD, suara mesin Formula 1 yang meraung di sirkuit Silverstone justru terasa menenangkan—sementara dengusan pengering tangan di toilet umum bisa memicu teriakan panik. Pengalaman kontras ini menjadi potret bagaimana sirkuit balap, yang identik dengan hiruk-pikuk, justru mampu menjadi ruang aman bagi penggemar neurodivergen berkat adaptasi inklusif yang terus dikembangkan.
Silverstone, tuan rumah Grand Prix Inggris, telah menjalani transformasi selama satu dekade untuk mengakomodasi kebutuhan penggemar dengan kondisi spektrum autisme (ASD) dan ADHD. Louise Broomhall, kepala layanan pelanggan Silverstone, mengungkapkan bahwa pihaknya memulai dengan pengetahuan yang sangat minim, namun kini terus berkembang dari tahun ke tahun. "Sangat penting bagi kami bahwa semua orang dapat hadir," ujarnya. Data National Autistic Society menunjukkan lebih dari satu dari 100 orang di Inggris adalah autis, dengan total sekitar 700.000 orang dewasa dan anak-anak. Di antaranya, 260.000 murid autis bersekolah di Inggris, dan angka diagnosis melonjak 787% antara 1998 dan 2018.
Salah satu inovasi utama adalah Copse Triangle, area menonton khusus di pinggir lintasan yang diperuntukkan bagi penggemar neurodivergen. Tempat ini berkapasitas terbatas, ditutupi rumput, dan menawarkan pemandangan langsung aksi balap tanpa hiruk-pikuk di luar lintasan. Akses masuk diperoleh melalui Skema Bantuan Pribadi Silverstone, dan karena permintaan tinggi, pendaftaran awal sangat disarankan. Sue Davidson, champion aksesibilitas di tim layanan pelanggan, menekankan bahwa umpan balik dari orang tua menunjukkan tidak ada penghakiman di area tersebut. "Begitu banyak pertemanan yang terjalin di sana," katanya.
Namun, tantangan masih membayangi. Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem, mengusulkan pengembalian mesin V8 pada 2030 atau 2031, yang akan menghasilkan suara lebih keras dan dramatis dibandingkan mesin hybrid yang digunakan sejak 2014. Bagi penggemar neurodivergen yang sudah terbiasa dengan mesin yang lebih senyap, perubahan ini berpotensi menjadi bumerang. Di sisi lain, Silverstone hanya bisa fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti menyediakan ruang sensorik di area keluarga dan materi cetak informatif bagi pengunjung yang membutuhkan persiapan matang sebelum datang.
Bagi orang tua dengan anak autis, merencanakan hari di luar rumah adalah proses yang rumit. Mulai dari mengkalibrasi ekspektasi, mempersiapkan perjalanan, hingga mengelola kecemasan yang bisa meluap berhari-hari setelah acara. Namun, memiliki hobi yang terfokus—seperti kecintaan Joshua pada balap motor—adalah ciri umum autisme. Keputusan untuk menghadiri akhir pekan balap di Silverstone pun diambil setelah pertimbangan matang. Meskipun sempat mengalami kelelahan autistik pada pagi hari balapan, Joshua berhasil melewatinya dan kembali menikmati hiruk-pikuk sirkuit.
Pertanyaan besarnya kini: apakah inklusivitas di ajang olahraga global seperti Formula 1 bisa terus berjalan seiring dengan perubahan regulasi teknis? Atau justru langkah mundur akan mengorbankan kenyamanan segelintir penggemar yang telah menemukan rumah mereka di tengah deru mesin?



