Dari Tuduhan Anoreksia hingga Body Shaming: Perjuangan Seorang Wanita Melawan Stigma Berat Badan
Baca dalam 60 detik
- Jillian Lim, 35 tahun, mengalami komentar tentang tubuhnya sejak kecil—dituduh anoreksia saat kurus, lalu di-body shaming setelah berat badannya naik.
- Meski BMI-nya kini 23,2 (normal) dan dinyatakan sehat oleh dokter, komentar negatif tetap datang, menunjukkan bahwa standar kecantikan seringkali tidak masuk akal.
- Kisah ini mencerminkan tekanan sosial yang dihadapi banyak perempuan Indonesia, di mana tubuh perempuan selalu menjadi bahan penilaian publik.

Sepanjang hidupnya, Jillian Lim tak pernah lepas dari komentar orang lain tentang tubuhnya. Saat masih kurus, ia dituduh anoreksia. Kini di usia 35 tahun, setelah berat badannya naik drastis, ia kembali menjadi sasaran body shaming. Ironisnya, kondisi kesehatannya justru lebih baik dari sebelumnya.
Kisah Lim, yang ditulisnya dalam sebuah esai untuk CNA Women, menggambarkan betapa standar kecantikan yang kaku dan tidak konsisten mampu membuat seseorang terus-menerus merasa salah. Sejak kecil, ia didorong untuk makan lebih banyak oleh keluarganya. Di sekolah dasar, ia dimasukkan dalam program susu khusus untuk anak kurus. Namun, susu itu justru membuatnya kenyang dan tidak bisa makan. Di kelas 6 SD, tinggi badannya 156 cm dengan berat hanya 37,5 kg.
Memasuki masa remaja, komentar beralih ke tuduhan anoreksia. Teman-teman sepupunya bercanda tentang tubuhnya yang terlalu kurus. Di bangku SMA, indeks massa tubuh (BMI) Lim hanya 16,2—jauh di bawah ambang normal. Ia pun menjadi sasaran lelucon tentang dada rata. Untuk menambah berat badan, ia mengonsumsi protein shake tiga kali sehari dan makan dalam porsi ganda. Namun, usahanya itu tak menghentikan komentar dari orang dewasa di sekitarnya, terutama ibu-ibu temannya, yang menuduhnya bulimik atau anoreksia.
Setelah melahirkan dua anak, berat badan Lim sempat turun drastis hingga 43 kg karena menyusui dan merawat anak. Namun, setelah di-PHK dan menjalani gaya hidup sedentari, beratnya melonjak menjadi 57 kg dalam 18 bulan. Kini, dengan BMI 23,2 yang masuk kategori normal, ia justru mendapat komentar baru: "Kamu habis makan bayi, ya?" atau "Mungkin kelenjar tiroidmu bermasalah."
Fenomena ini tak hanya dialami Lim. Di Indonesia, budaya komentar tentang tubuh—baik kurus maupun gemuk—masih lazim. Standar kecantikan yang berubah-ubah membuat perempuan terus-menerus berada dalam tekanan. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Djuwita, menilai bahwa komentar semacam itu seringkali berakar pada norma sosial yang tidak realistis. "Masyarakat kita masih menganggap tubuh perempuan sebagai milik publik yang boleh dikomentari kapan saja. Ini bisa memicu gangguan citra tubuh dan makan," ujarnya.
Lim sendiri mengaku tidak terlalu terpengaruh secara psikologis, namun ia khawatir dengan dampaknya pada kedua putrinya. "Saya tidak ingin mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa satu label adalah pujian dan label lainnya adalah aib," tulisnya. Ia berharap generasi mendatang tidak perlu lagi menjelaskan penampilan mereka kepada orang lain.
Kisah Lim menjadi pengingat bahwa komentar tentang berat badan, sekecil apa pun, bisa meninggalkan luka. Pertanyaannya, mampukah masyarakat Indonesia—dan dunia—berhenti menghakimi tubuh orang lain dan mulai menerima keragaman bentuk tubuh?



