Empat Tes Darah Sederhana Bisa Deteksi Demensia Lebih Awal dari Pemindaian Otak
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru menunjukkan bahwa biomarker protein tau dan beta-amyloid dalam darah dapat mengindikasikan risiko demensia hingga 25 tahun sebelum gejala muncul.
- Tes darah pTau217 dinilai setara atau bahkan lebih unggul dibandingkan PET scan dan tes cairan serebrospinal dalam mendeteksi penurunan kognitif.
- Metabolit dari bakteri usus juga menjadi kandidat baru untuk skrining demensia non-invasif, meski masih perlu validasi pada populasi lebih luas.

Deteksi dini demensia, terutama Alzheimer, kini semakin mungkin dilakukan tanpa harus menunggu gejala klinis muncul atau menjalani pemindaian otak yang mahal. Empat studi terbaru yang dirilis sepanjang 2026 menunjukkan bahwa tes darah sederhana berbasis protein dan metabolit usus mampu menandai risiko penurunan kognitif bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, sebelum pasien menyadari adanya gangguan ingatan.
Dalam studi yang dipublikasikan di The Lancet pada Mei 2026, para peneliti menganalisis data lebih dari 1.300 partisipan dewasa berusia 53–69 tahun tanpa diagnosis demensia. Sekitar 6% dari mereka memiliki kadar protein tau dan beta-amyloid yang tinggi dalam darah. Lima tahun kemudian, kelompok ini mengalami penurunan kognitif yang lebih signifikan dibandingkan mereka yang kadar proteinnya normal. Temuan ini memperkuat hipotesis bahwa perubahan biologis di otak sudah berlangsung lama sebelum gejala terlihat.
Studi lain yang dimuat di JAMA Network Open pada Maret 2026 melibatkan 2.766 wanita lanjut usia tanpa gangguan kognitif awal. Mereka yang memiliki kadar protein plasma phosphorylated tau 217 (pTau217) tinggi—sekitar setengah dari partisipan—mengalami penurunan kognitif ringan atau demensia dalam rentang 1 hingga 25 tahun kemudian. Faktor genetik seperti keberadaan gen APOE ε4 dan usia di atas 70 tahun mempercepat laju penurunan tersebut. Namun, para ahli mengingatkan bahwa temuan ini belum bisa digeneralisasi karena sampel hanya terdiri dari wanita pascamenopause.
Penelitian ketiga yang terbit di Nature Communications pada April 2026 mengikuti 317 orang dewasa berusia 50–90 tahun selama rata-rata delapan tahun. Hasilnya, pTau217 tidak hanya mendeteksi risiko lebih awal, tetapi juga berkorelasi erat dengan akumulasi protein amyloid-beta—yang diyakini sebagai pemicu utama Alzheimer. Menurut Hyun-Sik Yang, penulis utama studi tersebut, dua tes darah pTau217 sudah mendapat persetujuan FDA dan menunjukkan akurasi setara atau lebih baik dibandingkan tes cairan serebrospinal maupun PET scan.
Pendekatan lain datang dari peneliti University of East Anglia yang mempublikasikan hasilnya di Gut Microbes. Mereka menganalisis darah dan feses 15 orang berusia di atas 50 tahun, dan menemukan bahwa kadar metabolit tertentu—produk samping bakteri usus—berbeda secara signifikan pada mereka yang mengalami gangguan kognitif ringan. Kadar indoxyl sulfate yang tinggi dan rendahnya metabolit neuroprotektif seperti yang mendukung kesehatan otak, menjadi penanda potensial. Meski demikian, ukuran sampel yang kecil membuat temuan ini masih bersifat asosiatif, belum prediktif.
Di Indonesia, temuan ini membuka peluang besar mengingat keterbatasan akses terhadap pemindaian otak dan tes cairan serebrospinal yang mahal. Tes darah berbasis biomarker bisa menjadi solusi skrining massal yang lebih murah dan mudah diimplementasikan di puskesmas maupun rumah sakit daerah. Namun, validasi pada populasi Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masih diperlukan karena variasi genetik dan pola makan dapat memengaruhi kadar biomarker. Kementerian Kesehatan dan lembaga riset dalam negeri diharapkan mulai menjajaki kerja sama dengan peneliti internasional untuk mengadaptasi teknologi ini.
Ke depan, pertanyaan terbesarnya bukan lagi apakah tes darah bisa mendeteksi demensia lebih awal, melainkan seberapa siap sistem kesehatan dan masyarakat untuk menindaklanjuti hasil skrining tersebut. Tanpa intervensi yang efektif, deteksi dini hanya akan menjadi beban psikologis tanpa manfaat klinis yang nyata.



