Tiket Inggris vs Meksiko di Piala Dunia: Harga Resale Tembus Rp400 Juta, 57 Kali Lipat Harga Asli
Baca dalam 60 detik
- Tiket pertandingan babak 16 besar Piala Dunia antara Inggris dan Meksiko di Stadion Azteca dijual kembali di portal resmi FIFA dengan harga mencapai 57 kali lipat dari nilai nominal.
- Sebanyak 76 tiket kategori pendukung Inggris terdaftar di situs resale, dengan harga termurah sekitar 12 kali lipat dan termahal mencapai Rp26.220 per tiket.
- FIFA memungut biaya 15% dari pembeli dan penjual, sementara FA tidak bisa membatasi praktik ini karena diizinkan oleh FIFA.

Harga tiket pertandingan babak 16 besar Piala Dunia antara Inggris dan Meksiko di Stadion Azteca, Mexico City, melambung hingga 57 kali lipat dari harga asli di portal resale resmi FIFA. Empat tiket yang awalnya bernilai $605 (sekitar Rp9,2 juta) per lembar kini dipatok $30.000 (Rp456 juta) per tiket, belum termasuk biaya layanan FIFA sebesar 15% yang harus ditanggung pembeli.
Fenomena ini mencuat setelah Inggris memastikan tempat di babak 16 besar dengan mengalahkan DR Kongo pada babak 32 besar. Tiket yang awalnya dialokasikan untuk anggota England Supporters' Travel Club (ESTC) melalui sistem undian mulai bermunculan di situs resale FIFA. Hingga Jumat pagi, tercatat 76 tiket di kategori pendukung Inggris terdaftar, dengan harga termurah $3.448 (Rp52,4 juta) dari nilai nominal $295 (Rp4,5 juta)—hampir 12 kali lipat.
Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) mengonfirmasi bahwa tiket-tiket tersebut dibeli melalui undian ESTC setelah pengundian Piala Dunia pada Desember lalu. ESTC, yang memiliki biaya keanggotaan £65 per tahun, mendapat jatah 3.000 tiket untuk pertandingan di Stadion Azteca berkapasitas 80.824 kursi. Dari 4.373 anggota yang mendaftar, hanya mereka yang memiliki minimal 27 'caps'—poin kehadiran di pertandingan kandang dan tandang—yang dijamin mendapatkan tiket sesuai harga nominal.
FIFA memungut biaya 15% dari pembeli dan penjual untuk setiap transaksi. Dalam kasus tiket termahal, penjual tetap meraup keuntungan $25.500 (Rp388 juta) per tiket setelah dipotong biaya. Namun, harga yang tertera hanyalah harga yang diminta penjual, bukan harga yang disepakati pembeli. Tiket kategori termurah ($60) tidak dapat dijual kembali.
Praktik ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas sistem distribusi tiket FIFA. Meskipun ESTC baru saja mengumumkan kebijakan anti-touting untuk pertandingan kandang, aturan itu tidak berlaku untuk laga tandang seperti di Piala Dunia. FA tidak dapat membatasi penjualan kembali tiket karena FIFA mengizinkannya. Sementara itu, Football Supporters' Association belum memberikan komentar.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan tantangan akses tiket di ajang global. Dengan antusiasme tinggi terhadap Piala Dunia, praktik calo dan harga selangit kerap terjadi, termasuk di Indonesia. Pertanyaannya, apakah FIFA akan merevisi kebijakan resale untuk melindungi penggemar sejati, atau justru membiarkan pasar gelap terus menguntungkan spekulan?



