Dari Noko ke Kano: Seabad Bisbol Taiwan-Jalinan Lintas Generasi
Baca dalam 60 detik
- Tim bisbol pribumi Noko dari Taiwan menggelar tur ke Jepang pada 1925, menjadi cikal bakal pertukaran olahraga yang bertahan seabad.
- Kisah Kano, tim multietnis yang menjadi runner-up Koshien 1931, diabadikan dalam film dan terus menginspirasi pemain muda Taiwan.
- Warisan kolonial Jepang dalam bisbol Taiwan kini diwarisi oleh generasi baru yang bercita-cita bermain di liga profesional Jepang.

Seabad silam, sekelompok pemuda Amis dari pesisir timur Taiwan mengenakan seragam bertuliskan "Noko" dan berlayar ke Jepang untuk bertanding bisbol. Perjalanan itu bukan sekadar rangkaian pertandingan—ia menjadi benang merah yang hingga kini masih menghubungkan dua masyarakat melalui olahraga, pendidikan, dan memori bersama.
Tim Noko, yang dibentuk pada 1923 di Hualien di bawah pengawasan pejabat kolonial Jepang, menjalani tur ke daratan utama Jepang pada 1925. Dalam sembilan pertandingan, mereka mencatat tiga kemenangan, empat kekalahan, dan satu hasil imbang. Menurut Kyoko Matsuda, profesor di Nanzan University yang meneliti tim tersebut, pembentukan Noko merupakan bagian dari kebijakan Kantor Gubernur Jenderal Taiwan untuk mendidik masyarakat pribumi melalui kegiatan terstruktur seperti olahraga.
Tiga pemain Noko kemudian direkrut oleh Heian Junior High School di Kyoto pada 1926. Mereka menjadi bagian dari tim yang kelak meraih empat gelar nasional di turnamen Koshien, panggung bisbol sekolah menengah paling prestisius di Jepang. Langkah itu membuka jalan bagi lahirnya generasi pemain Taiwan yang menempuh pendidikan dan karier di negeri sakura.
Di sisi lain Pulau Taiwan, di Chiayi, berdiri Chiayi Agricultural and Forestry Junior High School yang dikenal dengan nama Kano. Pada 1931, tim Kano yang terdiri dari pemain pribumi, Han, dan Jepang—sebuah perpaduan langka di masa itu—melaju hingga final Koshien musim panas. Dipimpin oleh pelempar andalan Wu Ming-chieh, mereka harus puas sebagai runner-up. Kisah perjuangan Kano diabadikan dalam film Taiwan "KANO" (2014) yang menyoroti semangat pantang menyerah di tengah tekanan kolonial.
Sejarawan Andrew D. Morris dalam bukunya "Colonial Project: A History of Baseball in Taiwan" berargumen bahwa bisbol menjadi ruang kultural untuk mengekspresikan ketegangan dan aspirasi pasca-Insiden Musha 1930, ketika penduduk pribumi memberontak terhadap diskriminasi dan ditumpas oleh militer Jepang. Di tengah represi, lapangan bisbol menjelma menjadi panggung perlawanan simbolis dan pencarian identitas.
Warisan Kano masih hidup di kampus Chiayi University, yang tim bisbolnya kini menjadi salah satu yang terkuat di Taiwan. Wakil kapten tim, Chao Chia-cheng, yang berasal dari suku pribumi, mengaku terinspirasi setelah menonton film "KANO". "Saya memahami semangat pantang menyerah hingga akhir," ujarnya, seraya merasakan ikatan kuat dengan para pemain masa lalu yang mengangkat tim dari keterpurukan.
Jejak pertukaran itu juga terlihat pada Li Wen-hsun, lulusan Meishu Gakuen Hitachi High School di Ibaraki, Jepang. Ia bermain sebagai pemukul bersih sebelum lulus ujian masuk Universitas Tokyo pada musim semi lalu dan bergabung dengan tim bisbol kampus. "Saya menonton 'KANO' saat SD dan menganggap bisbol itu luar biasa. Saya bercita-cita bermain di bisbol profesional Jepang dan ingin memajukan bisbol Asia," katanya.
Seabad setelah tiga pemain pribumi Noko menyeberang ke Jepang, ambisi Li Wen-hsun dan Chao Chia-cheng menjadi bukti bahwa ikatan yang dibangun melalui bisbol tidak pernah pudar. Pertanyaannya kini: akankah generasi berikutnya mampu menjembatani tidak hanya Taiwan dan Jepang, tetapi juga memperkuat ekosistem bisbol Asia secara keseluruhan?



