Del Toro Ukir Sejarah di Tour de France, Pogacar Makin Dekat ke Vingegaard
Baca dalam 60 detik
- Isaac del Toro menjadi pembalap Meksiko kedua yang memenangi etape Tour de France setelah Raul Alcala pada 1990, mengatasi masalah mekanik di tengah lintasan.
- Rekan setimnya, Tadej Pogacar, finis kedua dan memangkas jarak dari pemimpin klasemen Jonas Vingegaard menjadi hanya enam detik.
- Kemenangan ini terjadi saat tim nasional sepak bola Meksiko berlaga di Piala Dunia, menambah semarak prestasi olahraga negara tersebut.

Isaac del Toro menorehkan namanya dalam sejarah balap sepeda dunia setelah memenangi etape kedua Tour de France, Minggu (5/7), di Barcelona. Pembalap muda Meksiko berusia 22 tahun itu menjadi warga negaranya yang pertama dalam lebih dari tiga dekade yang mampu merebut satu etape di ajang paling bergengsi tersebut, setelah Raul Alcala pada 1990.
Del Toro, yang membela tim UAE Team Emirates-XRG, harus menghadapi rintangan berat sejak kilometer ke-60. Masalah mekanik pada sepedanya memaksanya berhenti di pinggir jalan, menunggu kendaraan pengganti. Komunikasi yang kurang lancar dengan tim melalui radio membuat proses pergantian berlangsung lebih lama dari seharusnya. Namun, begitu kembali mengayuh, ia hanya butuh sekitar 10 kilometer untuk mengejar ketertinggalan dan kembali ke barisan depan.
Di akhir etape, saat para pembalap melahap tiga putaran tanjakan Cote de Chateau de Montjuic, Del Toro justru menjadi aktor utama. Ia melepas serangan pada kilometer terakhir yang mengejutkan para rival, termasuk rekan setimnya sendiri, Tadej Pogacar. Pogacar, yang merupakan juara bertahan, finis di posisi kedua dan berhasil memangkas defisit waktu dari pemimpin klasemen Jonas Vingegaard menjadi hanya enam detik.
โIni berarti segalanya bagi saya,โ ujar Del Toro usai balapan, seperti dikutip media internasional. โSaya sangat beruntung. Tim memberi kepercayaan penuh. Saya tidak percaya bisa melakukannya. Ini gila. Apalagi bagi negara saya.โ Ia menambahkan bahwa rencana awal adalah membantu Pogacar, tetapi ketika celah waktu membesar, ia memutuskan untuk mengikuti alur hingga garis finis. Pogacar sendiri mengangkat Del Toro ke udara saat merayakan kemenangan, menunjukkan solidaritas tim yang kuat.
Sementara itu, Vingegaard mengakui bahwa lintasan etape kedua bukanlah medan favoritnya. โHari ini tidak mudah. Saya cukup senang bisa mempertahankan jersey kuning. Tim Del Toro melakukan pekerjaan luar biasa, mereka pantas menang,โ kata pembalap asal Denmark itu. Di sisi lain, Del Toro juga mengaitkan kemenangannya dengan performa tim nasional sepak bola Meksiko yang saat bersamaan berlaga di babak 16 besar Piala Dunia. โKami punya 11 pemain yang luar biasa di sepak bola, dan bisa berada di level yang sama di balapan tersulit di Prancis adalah mimpi,โ tambahnya.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, kemenangan Del Toro menjadi pengingat bahwa strategi tim dan ketangguhan mental bisa mengubah hasil akhir. Meski tidak ada pembalap Indonesia yang berlaga, momen seperti ini kerap menjadi tontonan menarik karena menyajikan drama dan kejutan. Ke depannya, persaingan antara Pogacar dan Vingegaard diprediksi semakin ketat, terutama dengan selisih waktu yang sangat tipis. Akankah Vingegaard mampu mempertahankan jersey kuning hingga Paris, atau Pogacar akan kembali mendominasi seperti tahun lalu?



