Osaka Kembali ke Performa Terbaik: Kemenangan atas Sabalenka di Wimbledon Jadi Bukti
Baca dalam 60 detik
- Naomi Osaka mengalahkan petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka di babak keempat Wimbledon, menandai kebangkitan setelah masa sulit pasca-melahirkan.
- Perubahan besar terjadi setelah kekalahan telak dari Iga Swiatek di Roma, yang mendorong Osaka untuk mengubah pola pikir dan menikmati permainan.
- Dukungan keluarga, termasuk masakan ibu, serta kerja sama dengan pelatih baru Tomasz Wiktorowski menjadi kunci kebangkitan mental dan teknis Osaka.

Naomi Osaka akhirnya menemukan kembali kegembiraan bermain tenis setelah melalui masa-masa penuh tekanan dan keraguan. Pada pertandingan babak keempat Wimbledon, Minggu (7/7) sore, petenis Jepang itu tampil gemilang dengan mengalahkan unggulan teratas Aryna Sabalenka, sebuah hasil yang langsung mengingatkan publik pada kejayaannya beberapa tahun lalu.
Dua tahun sebelumnya, Osaka mengaku olahraga yang dulu "seringan bernapas" baginya justru membuatnya hampa. Setelah kembali dari cuti melahirkan pada Juli 2023, ia merasa tidak nyambung dengan tubuhnya sendiri. "Saya mencoba mengatakan pada diri sendiri, 'Tidak apa-apa, kamu baik-baik saja.' Secara mental, ini sangat menguras tenaga," tulisnya pada Agustus 2024. Namun, di lapangan pusat Wimbledon, Osaka menunjukkan performa yang oleh mantan juara Grand Slam Tracy Austin disebut sebagai "yang terbaik sejak ia kembali".
Kemenangan 6-4, 6-3 atas Sabalenka tidak hanya mengantarkan Osaka ke perempat final, tetapi juga menandai perubahan besar dalam pendekatannya terhadap tenis. Ia mengakui bahwa kekalahan telak 6-2, 6-1 dari Iga Swiatek di Roma menjadi titik balik. "Setelah itu, saya merasa malu dan tidak berbicara dengan tim saya. Saya pulang dan berpikir, saya sudah hampir 30 tahun, harus menikmati waktu yang ada," ujar Osaka. Ia menegaskan bahwa tenis sangat penting, tetapi ia memiliki kehidupan di luar lapangan.
Perubahan teknis juga berperan besar. Pelatih baru Tomasz Wiktorowski, yang mulai bekerja sama dengan Osaka pada pertengahan 2025, fokus pada pola gerakan dan pengenalan pola permainan. "Kami melakukan banyak latihan, tidak semuanya di lapangan rumput. Lebih ke pengenalan pola dan membuat saya nyaman dengan permainan sendiri," jelas Osaka. Hasilnya, ia mampu mengimbangi kecepatan Sabalenka dengan kontrol yang lebih baik, serta menunjukkan ketenangan yang jarang terlihat sebelumnya.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah dukungan keluarga. Osaka tinggal bersama ibu dan putrinya, Shai, di London. "Ibu saya memasak banyak makanan Jepang, dan saya merasa masakannya memberi energi. Saya sangat berterima kasih untuk itu," katanya sambil tersenyum. Kehadiran keluarga membuatnya lebih rileks dan fokus. Bahkan, ia sempat bercanda tentang menghukum Shai karena "nakal" saat ulang tahun ketiganya.
Kemenangan ini juga membawa implikasi bagi perkembangan tenis di Asia, termasuk Indonesia. Osaka, sebagai salah satu ikon olahraga Asia, menunjukkan bahwa pemulihan mental dan fisik setelah masa sulit adalah mungkin. Bagi pebulutangkis dan petenis Indonesia, kisah Osaka bisa menjadi inspirasi untuk tidak menyerah pada tekanan dan terus mencari keseimbangan antara prestasi dan kebahagiaan pribadi.
Di perempat final, Osaka akan menghadapi Karolina Muchova, petenis Ceko yang dikenal dengan permainan cerdik dan variasi pukulan. Namun, dengan kepercayaan diri yang pulih, Osaka siap menghadapi tantangan. "Saya merasa lebih longgar, lebih tenang, dan lebih siap dari sebelumnya," tegasnya. Pertanyaannya, mampukah Osaka mempertahankan performa ini dan kembali ke puncak? Atau akankah Muchova menjadi batu sandungan baru? Publik tenis dunia, termasuk penggemar di Indonesia, patut menanti.



