Max Verstappen Sebut Kegagalan Sayap Belakang Red Bull 'Super Berbahaya'
Baca dalam 60 detik
- Max Verstappen mengalami dua kecelakaan beruntun akibat sayap belakang Red Bull yang gagal menutup saat masuk tikungan, menimbulkan risiko keselamatan serius.
- Insiden di GP Austria dan GP Inggris memperlihatkan kelemahan mekanisme sayap inovatif Red Bull yang dirancang untuk mengurangi hambatan udara.
- Verstappen, yang tertinggal 103 poin dari pemuncak klasemen, mulai mempertimbangkan opsi pindah tim melalui klausul performa dalam kontraknya.

Max Verstappen menilai kegagalan sayap belakang mobil Red Bull yang menyebabkan dua kecelakaan beruntun dalam dua seri balapan beruntun sebagai kondisi yang sangat membahayakan keselamatan pembalap. Juara dunia empat kali itu nyaris celaka saat mengejar Lewis Hamilton di Grand Prix Inggris, setelah sebelumnya mengalami insiden serupa di kualifikasi GP Austria.
Pada lap ke-48 di Sirkuit Silverstone, Verstappen kehilangan kendali di tikungan cepat Stowe saat sedang memburu posisi kedua. Investigasi tim menunjukkan penyebabnya sama dengan kecelakaan di Austria: sayap belakang gagal menutup sempurna ketika mode lurus dimatikan saat memasuki tikungan. Akibatnya, downforce berkurang drastis dan mobil langsung berputar keluar lintasan.
"Ini super-berbahaya karena Anda benar-benar bisa cedera dua kali. Saya beruntung di Austria, beruntung juga di sini. Itu sebabnya saya sangat muak," ujar Verstappen, yang melontarkan umpatan melalui radio tim setelah insiden Silverstone. Meski kedua kegagalan memiliki akar masalah berbeda, hasil akhirnya sama: mobil kehilangan daya cengkeram dan oleng.
Kekhawatiran Verstappen tidak hanya soal keselamatan, tetapi juga performa Red Bull musim ini. Setelah sembilan seri, ia terpuruk di peringkat ketujuh dengan defisit 103 poin dari pemimpin klasemen Kimi Antonelli (Mercedes). Dari tiga balapan yang tidak finis, semuanya disebabkan masalah teknis mobil. "Saya hanya ingin menyelesaikan balapan. Itu saja sudah bagus. Terlalu banyak hal yang salah, bahkan tanpa bicara kecepatan," keluhnya.
Kepala tim Red Bull, Laurent Mekies, mengakui kekecewaan Verstappen beralasan. "Sangat tidak menyenangkan bagi pembalap dikecewakan mobil di tikungan kecepatan tinggi dalam dua balapan beruntun, apalagi dengan penyebab berbeda. Ini juga sangat tidak mengenakkan bagi kami sebagai tim yang mengirim pembalap ke gravel trap," ujarnya. Mekies menegaskan tim akan mengambil langkah serius untuk mencegah terulangnya insiden, meski gagal melakukannya di Silverstone.
Red Bull dan Ferrari mengadopsi desain sayap belakang yang tidak konvensional untuk meraih pengurangan hambatan udara lebih besar. Jika tim lain menggunakan sistem mirip DRS yang membuka flap atas beberapa derajat, Red Bull membuat sayap berputar ke belakang hingga terbalik, sementara Ferrari memutar ke depan lalu ke belakang. Mekies menyatakan semua opsi terbuka, termasuk kemungkinan meninggalkan desain tersebut.
Di tengah masalah teknis ini, masa depan Verstappen di Red Bull mulai dipertanyakan. Kontraknya memang berlaku hingga 2028, tetapi terdapat klausul performa yang memungkinkannya hengkang pada akhir musim ini. Manajemennya telah menjajaki opsi dari tim rival, termasuk Mercedes dan McLaren, untuk menentukan langkah terbaik musim depan. Akankah Verstappen bertahan atau memilih tantangan baru?



