Tommy John, Pelempar Legendaris di Balik Operasi yang Menyelamatkan Karier Atlet, Tutup Usia
Baca dalam 60 detik
- Tommy John, pelempar MLB dengan 288 kemenangan, meninggal dunia pada usia 83 tahun di kediamannya di Florida, Amerika Serikat.
- Operasi rekonstruksi ligamen siku yang pertama kali dijalaninya pada 1974 menjadi prosedur standar yang telah menyelamatkan karier ribuan atlet, termasuk Shohei Ohtani dan Justin Verlander.
- Warisan John tidak hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai pionir medis yang namanya kini melekat pada prosedur bedah yang mengubah dunia olahraga.

Dunia bisbol kehilangan salah satu ikonnya. Tommy John, pelempar legendaris yang namanya diabadikan dalam prosedur bedah rekonstruksi ligamen siku, meninggal dunia pada Sabtu malam (16/8) di kediamannya di Bradenton, Florida, dalam usia 83 tahun. Kepergiannya menandai akhir dari sebuah era yang tidak hanya mengubah jalan kariernya sendiri, tetapi juga memberikan harapan baru bagi ribuan atlet di seluruh dunia yang mengalami cedera serupa.
John, yang menghabiskan 26 musim di Major League Baseball (MLB) bersama enam tim berbeda, dikenal karena ketangguhannya. Namun, namanya melambung justru setelah ia menjalani operasi inovatif pada 1974 yang kemudian dikenal sebagai 'Tommy John Surgery'. Prosedur yang awalnya dianggap sangat berisiko itu kini menjadi standar emas dalam penanganan cedera ligamen kolateral ulnaris (UCL), mengubah cara pandang dunia medis dan olahraga terhadap cedera yang dulunya dianggap sebagai akhir karier.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh agennya, Mike Maguire, pada Minggu (17/8). Sebelumnya, pada 8 Agustus lalu, John sempat menyampaikan pesan perpisahan melalui media sosial New York Yankees, tim yang pernah dibelanya. "Saya tidak akan pernah melupakan kalian," tulisnya, sebuah ungkapan yang kini menjadi kenangan manis bagi para penggemar dan rekan-rekannya.
Karier John dimulai pada 1963 bersama Cleveland, sebelum kemudian memperkuat Chicago White Sox, Los Angeles Dodgers, New York Yankees, California Angels, dan Oakland Athletics. Ia tercatat sebagai empat kali All-Star dan dua kali menjadi starter di hari pembukaan musim, sebuah bukti konsistensi dan daya tahannya yang luar biasa. Namun, di balik statistiknya yang mengesankan, ada satu momen yang mengubah segalanya: cedera UCL yang dideritanya saat bermain melawan Montreal Expos pada 1974, ketika usianya baru 31 tahun.
Saat itu, cedera seperti ini hampir selalu berarti akhir dari karier seorang pelempar. Namun, John memilih untuk mengambil risiko dengan menjalani operasi yang diusulkan oleh dokter tim Dodgers, Dr. Frank Jobe. Jobe mengganti ligamen yang rusak dengan tendon dari lengan kanan John, sebuah prosedur yang belum pernah dilakukan pada siku seorang pelempar. "Jika dihitung dalam nilai ekonomi, tidak diragukan lagi bahwa Tommy John adalah prosedur rekonstruksi paling berharga yang ada," ujar Dr. Neal ElAttrache, dokter tim Dodgers saat ini, kepada Associated Press pada 2024.
Keberhasilan operasi tersebut tidak hanya menyelamatkan karier John, yang kemudian bermain hingga usia 46 tahun, tetapi juga membuka jalan bagi generasi atlet berikutnya. Nama-nama besar seperti Shohei Ohtani, Justin Verlander, dan Bryce Harper adalah sebagian dari ribuan atlet yang telah merasakan manfaat prosedur ini. Bahkan, pada 2019, istilah 'Tommy John surgery' resmi masuk dalam kamus Merriam-Webster, menandakan betapa prosedur ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia olahraga.
Di Indonesia, meskipun bisbol bukan olahraga utama, kisah Tommy John tetap relevan. Prosedur serupa kini mulai dikenal di kalangan atlet dan praktisi kedokteran olahraga tanah air, terutama bagi mereka yang menekuni olahraga yang membutuhkan gerakan lemparan intensif, seperti softball atau kriket. Keberhasilan John menjadi bukti bahwa inovasi medis dapat memberikan harapan baru bagi atlet yang mengalami cedera serius, sebuah pelajaran berharga bagi perkembangan kedokteran olahraga di Indonesia.
Di luar lapangan, John dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Ia pernah menolak menjadi pembicara wisuda karena gagap, dan selalu mengingat pesan ayahnya: "Kamu akan selalu menjadi Tommy John dari Terre Haute, Indiana." Meskipun tidak pernah masuk Hall of Fame, banyak yang menilai bahwa kontribusinya terhadap dunia olahraga jauh melampaui sekadar penghargaan. "The HOF is missing Tommy John," tulis mantan manajer umum Dodgers, Ned Colletti, di media sosial.
John meninggalkan istri keduanya, Cheryl, serta anak-anaknya, Tamara, Tommy III, dan Travis. Putrinya, Taylor, meninggal dunia pada 2010. Ia juga meninggalkan menantunya, Patrick Mannelly, mantan pemain NFL. Keluarganya, seperti halnya dunia olahraga, kini harus berduka atas kepergian seorang pionir yang tidak hanya mengubah cara bermain, tetapi juga cara berpikir tentang cedera dan pemulihan.
Pertanyaannya kini, akankah ada lagi sosok seperti Tommy John yang mampu melampaui batas-batas yang ada? Atau justru prosedur yang ia perkenalkan akan terus berkembang, melahirkan inovasi-inovasi baru yang semakin mempersingkat waktu pemulihan atlet? Yang jelas, warisan John akan terus hidup, tidak hanya dalam catatan statistik, tetapi juga dalam setiap atlet yang berhasil bangkit dari cedera berkat prosedur yang ia perintis.



