McIlroy Akui 'Tersesat' Usai Tersungkur di St Jude, Scheffler Kembali ke Jalur Juara
Baca dalam 60 detik
- Rory McIlroy finis ke-66 dengan skor total 8-over par, tertinggal 25 pukulan dari Scottie Scheffler di St Jude Championship.
- Penampilan buruk McIlroy memunculkan kekhawatiran menjelang kejaran gelar FedEx Cup keempatnya, sementara Scheffler meraih kemenangan pertamanya sejak Januari.
- Dengan hanya tersisa dua turnamen playoff, McIlroy harus segera menemukan kembali ritme permainannya untuk bersaing di Tour Championship.

Rory McIlroy mengakui dirinya "merasa tersesat" setelah menjalani akhir pekan yang mengecewakan di St Jude Championship, finis di posisi ke-66 dengan total 8-over par, tertinggal 25 pukulan dari sang juara, Scottie Scheffler. Kegagalan ini menjadi sinyal bahaya bagi pebalap asal Irlandia Utara itu, yang sebelumnya dipastikan lolos ke Tour Championship akhir musim, namun kini mempertanyakan kesiapannya untuk bersaing di puncak.
Bagi Scheffler, kemenangan dengan skor 17-under par di TPC Southwind adalah penegasan dominasi. Ini adalah gelar pertamanya sejak Januari, sekaligus menjawab kritik yang sempat muncul akibat rentetan hasil kurang memuaskan di beberapa turnamen sebelumnya. Namun, sorotan utama justru tertuju pada McIlroy, yang gagal mencatatkan satu pun putaran di bawah par selama empat hari, sebuah anomali bagi pemain sekelasnya.
McIlroy, yang musim ini sudah mengamankan gelar Masters keduanya, mengaku minim persiapan karena tidak bertanding sejak The Open pada Juli. "Saya sangat jauh dari kondisi yang saya butuhkan untuk merasa punya peluang. Saya hanya harus terus bekerja dan berharap semuanya berbalik," ujarnya. Ia juga menyoroti masalah eksekusi pukulan, terutama dari area tee-to-green, di mana ia menempati peringkat ke-62 dari 68 pemain dalam statistik strokes gained.
Meski demikian, ada secercah harapan. Pada ronde final, McIlroy sempat menunjukkan kilatan permainan dengan empat birdie dalam tujuh lubang di sembilan lubang terakhir, sebelum ditutup dua bogey beruntun. Namun, konsistensi tetap menjadi masalah utama. "Semakin lama turnamen berjalan, saya semakin merasa tersesat dengan ayunan saya," tambahnya, menggambarkan kebingungan yang jarang terlihat dari seorang juara major.
Di sisi lain, Scheffler tampil tanpa cela. Unggul dua pukulan sejak hari ketiga, ia menuntaskan ronde final dengan 66 pukulan (4-under), mengungguli tujuh pukulan dari Sam Burns yang juga sahabat dekatnya. "Saya punya beberapa peluang dekat tahun ini. Selalu menantang bermain dengan salah satu sahabat terbaik saya, tapi saya ingin memberikan yang terbaik," kata Scheffler. Kemenangan ini pun terasa istimewa karena diraih di hadapan publik sendiri, mengukuhkan posisinya sebagai pemain nomor satu dunia.
Bagi penggemar golf di Indonesia, performa McIlroy ini menjadi pengingat bahwa bahkan atlet elit pun bisa kehilangan ritme. Namun, yang lebih menarik adalah bagaimana ia akan bangkit. Dengan dua turnamen tersisaโBMW Championship di Bellerive Country Club dan Tour Championship di East LakeโMcIlroy masih punya peluang untuk mengejar gelar FedEx Cup keempatnya yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, jika penampilannya di St Jude adalah indikasi, ia harus bekerja ekstra keras dalam sepekan ke depan.
Pertanyaannya sekarang: apakah McIlroy mampu menemukan kembali permainannya sebelum semuanya terlambat, atau justru Scheffler akan terus mendominasi dan mengubur harapan rivalnya? Jawabannya akan terungkap dalam dua pekan mendatang, dan dunia golf akan menyaksikan dengan napas tertahan.



