Leclerc Bungkam Kritik dengan Kemenangan Perdana di Silverstone
Baca dalam 60 detik
- Charles Leclerc mengakhiri paceklik kemenangan sejak Oktober 2024 dengan memenangi GP Inggris di Silverstone, sekaligus membungkam kritik terhadap performanya.
- Pembalap Ferrari itu sempat mengalami rentetan hasil buruk, termasuk dua kecelakaan di Monaco, yang memicu narasi negatif di media dan publik.
- Kemenangan ini menjadi yang kedua bagi Ferrari dalam tiga balapan terakhir, menandai kebangkitan tim setelah sebelumnya hanya mengandalkan Lewis Hamilton.

Charles Leclerc akhirnya memutus puasa kemenangan yang membebaninya sejak Grand Prix Amerika Serikat 2024. Pebalap asal Monako itu sukses menjadi yang tercepat di Sirkuit Silverstone, Minggu (5/7), sekaligus menjawab keraguan yang sempat menghantui kariernya musim ini.
Kemenangan kesembilan dalam karier Leclerc di Formula 1 ini terasa istimewa karena diraih di tengah tekanan besar. Sebelumnya, ia kerap dikritik tajam akibat serangkaian kecelakaan, termasuk dua kali gagal finis di GP Monako—balapan kandangnya—serta insiden di Spanyol yang membuatnya mengaku malu.
“Saya sangat bangga dengan tim yang membantu saya menemukan kembali perasaan yang hilang bersama mobil,” ujar Leclerc usai balapan. Ia menambahkan bahwa lingkungan kerja yang negatif akibat narasi yang terbentuk di media dan publik membuatnya sulit fokus. Namun, ia memilih untuk “membatalkan kebisingan” dengan tidak membaca ponsel atau mendengarkan opini luar.
Ferrari sendiri mencatatkan kemenangan kedua dalam tiga balapan terakhir, setelah sebelumnya Lewis Hamilton memenangi GP Spanyol pada Juni lalu. Hamilton, yang kini berusia 41 tahun, finis ketiga di Silverstone dan memperlebar jarak poin atas Leclerc di klasemen menjadi 39 poin.
Menurut pengamat F1, kebangkitan Leclerc menunjukkan bahwa performa pebalap sangat dipengaruhi oleh kepercayaan diri dan adaptasi terhadap mobil. “Di sirkuit cepat seperti Silverstone, rasa percaya diri adalah segalanya. Leclerc berhasil merebutnya kembali,” kata seorang analis olahraga otomotif.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, kemenangan ini menambah persaingan seru di papan atas. Dengan delapan seri tersisa, Leclerc masih berpeluang memperbaiki posisinya, meski jarak poin cukup lebar. Seri berikutnya di Spa-Francorchamps, Belgia, yang memiliki karakter cepat mirip Silverstone, bisa menjadi momentum bagi Leclerc untuk terus mendekati para pemuncak klasemen.
Pertanyaan besarnya: akankah Leclerc mampu mempertahankan konsistensi ini, atau justru kembali ke performa naik-turun yang sempat mewarnai musimnya? Jawabannya akan mulai terlihat di Belgia akhir pekan depan.



