Kirab Merah Putih 2025: Kereta Garuda Prabayaksa Kawal Bendera Pusaka Menuju Istana
Baca dalam 60 detik
- Kereta kencana Garuda Prabayaksa memulai perjalanan bersejarah dari Monas ke Istana Merdeka, mengangkut bendera pusaka dan naskah proklamasi.
- Dua Purna Paskibraka Duta Pancasila 2025 dipercaya membawa simbol kenegaraan, menandai peran generasi muda dalam upacara HUT ke-81 RI.
- Prosesi ini menjadi puncak rangkaian peringatan kemerdekaan yang tahun ini mengusung tema 'Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur'.

Kereta kencana Garuda Prabayaksa mulai bergerak meninggalkan kawasan Monumen Nasional (Monas) menuju Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin pagi. Prosesi kirab Merah Putih ini mengawali rangkaian puncak peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, dengan membawa bendera pusaka dan teks proklamasi yang akan digunakan dalam upacara kenegaraan.
Dua Purna Paskibraka Duta Pancasila 2025 mendapat kehormatan membawa simbol-simbol kemerdekaan tersebut. Bianca Sultana Najwa, siswi SMAN 82 Jakarta, memegang bendera pusaka, sementara naskah proklamasi dipercayakan kepada Aliah Sakira dari SMAN 14 Makassar. Keduanya menaiki kereta kencana yang dibuat khusus di Sleman, Yogyakarta, untuk merayakan HUT ke-80 RI pada tahun sebelumnya.
Nama Garuda Prabayaksa sendiri memiliki makna filosofis, berasal dari kata 'Praba' dan 'yaksa' yang berarti cahaya besar atau terang. Pemilihan nama ini bukan sekadar estetika, melainkan simbolisasi semangat penerangan dan kebanggaan bangsa, sebagaimana diungkapkan oleh panitia penyelenggara. Kereta tersebut dikawal ketat oleh 45 personel motor kawal Polisi Militer, drum corps Pelopor Cendrawasih dari Akademi Kepolisian, serta 114 prajurit Resimen Kavaleri Berkuda Ronggolawe dan 78 pasukan Kerajaan Nusantara.
Sebelum kirab dimulai, prosesi penyerahan bendera dan teks proklamasi dilangsungkan di Ruang Kemerdekaan Monas. Ribuan warga tampak telah memadati kawasan Monas sejak dini hari untuk menyaksikan momen langka ini, sebuah antusiasme yang menurut pengamat menjadi cermin kuatnya ikatan emosional masyarakat terhadap simbol-simbol negara.
Kirab ini bukan sekadar arak-arakan seremonial. Ia menjadi pengingat akan kontinuitas sejarah bangsa, sekaligus momentum untuk merefleksikan capaian kemerdekaan. Bagi masyarakat Indonesia, kehadiran kereta kencana yang diarak dengan pengawalan militer dan kerajaan nusantara mempertegas identitas budaya yang berpadu dengan modernitas. Hal ini juga menjadi daya tarik wisata sejarah yang potensial, mengingat antusiasme warga yang rela mengantre sejak subuh.
Upacara peringatan HUT ke-81 sendiri akan berlangsung di Istana Merdeka pada hari ini, dengan sejumlah menteri memimpin upacara di berbagai daerah, seperti NTT. Momen ini menjadi ajang bagi pemerintah untuk menegaskan komitmen terhadap tema tahun ini, yang menekankan kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran.
Ke depan, pertanyaannya adalah bagaimana semangat 'Garuda Prabayaksa'โcahaya terangโditerjemahkan dalam kebijakan nyata yang dirasakan rakyat. Apakah peringatan kali ini hanya akan menjadi seremoni tahunan, atau justru menjadi titik tolak percepatan pembangunan yang berkeadilan? Publik menunggu langkah konkret setelah bendera pusaka kembali disimpan.



