Dominasi Amerika di Wimbledon: Anisimova dan Fritz Melaju, Sinyal Kekuatan Tenis AS?
Baca dalam 60 detik
- Amanda Anisimova bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Sofia Kenin di babak kedua Wimbledon, bergabung dengan delapan petenis putri AS lainnya yang lolos.
- Taylor Fritz, semifinalis 2025, melaju mulus ke putaran ketiga dan menjadi andalan AS di nomor putra bersama sejumlah rekan senegaranya.
- Dominasi petenis AS di Wimbledon tahun ini memicu pertanyaan tentang kebangkitan tenis Amerika di level Grand Slam.

Amanda Anisimova nyaris terulang mimpi buruk setahun lalu saat dikalahkan Iga Swiatek 6-0, 6-0 di final Wimbledon. Namun, pada Kamis (2/7) ia berhasil selamat dari pertarungan sengit melawan sesama petenis Amerika Serikat, Sofia Kenin, dengan skor 6-2, 4-6, 7-6(10-3). Kemenangan ini tidak hanya membawanya ke putaran ketiga, tetapi juga menegaskan kembali kekuatan tenis Amerika di All England Club.
Anisimova, unggulan keenam, mengakui ada momen-momen sulit dalam pertandingan tersebut. Ia diselamatkan oleh servisnya yang mematikan—20 ace tercatat dalam laga itu. "Saya tidak pernah mengira akan mengatakan ini, tetapi terima kasih untuk servis saya. Saya bukan server yang baik, tetapi setelah hari ini, saya bisa bilang saya memang jago," ujarnya dengan senyum lebar. Kemenangan ini membawanya berhadapan dengan Madison Keys, sesama juara Grand Slam, pada Sabtu mendatang—sebuah laga yang dinantikan di tengah perayaan 250 tahun kemerdekaan AS.
Di sektor putra, Taylor Fritz juga menunjukkan performa impresif. Unggulan keenam itu mengalahkan Patrick Kypson 6-2, 6-2, 7-5 di Court Two. Fritz, yang mencapai semifinal Wimbledon pada 2025, dianggap sebagai kandidat kuat di permukaan rumput berkat servis besarnya. Ia bergabung dengan Marcos Giron dan Zachary Svajda yang juga melaju, sementara Michael Zheng, Tommy Paul, dan Jenson Brooksby telah lebih dulu memastikan tempat di putaran ketiga sehari sebelumnya.
Dominasi AS ini menarik perhatian, terutama di tengah persaingan ketat dengan petenis Eropa. Namun, tantangan berat menanti di putaran berikutnya. Giron akan berhadapan dengan juara Prancis Terbuka Alexander Zverev, Svajda melawan unggulan kelima Alex de Minaur, dan Zheng ditantang unggulan ketiga Felix Auger-Aliassime. Sementara itu, Brooksby harus menghadapi Jannik Sinner—sebuah tugas yang hampir mustahil. Di pihak lain, petenis putri AS seperti Ashlyn Krueger dan Emma Navarro juga melaju, bergabung dengan Iva Jovic, Jessica Pegula, Coco Gauff, dan Claire Liu.
Bagi Indonesia, dominasi AS ini bisa menjadi pelajaran berharga. Tenis Indonesia masih berjuang untuk menembus level Grand Slam, dan kesuksesan AS menunjukkan pentingnya pembinaan usia dini serta kompetisi internal yang ketat. Federasi Tenis Indonesia (PELTI) dapat meniru model pengembangan bakat AS yang mengandalkan turnamen universitas dan akademi swasta. Namun, tanpa dukungan pemerintah yang kuat, mimpi melahirkan petenis setingkat Anisimova atau Fritz masih jauh.
Di sisi lain, sejumlah petenis unggulan juga menunjukkan performa solid. Alexander Zverev melanjutkan usahanya meraih gelar Grand Slam kedua beruntun dengan mengalahkan Valentin Royer 6-1, 6-3, 7-6(3). Alex de Minaur menang mudah atas Adrian Mannarino 6-3, 6-2, 6-2. Sementara itu, juara bertahan Iga Swiatek dengan cepat menyingkirkan mantan nomor satu dunia Karolina Pliskova 6-1, 6-3. Swiatek akan berhadapan dengan Alexandra Eala dari Filipina di putaran ketiga.
Pertandingan-pertandingan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan gambaran tentang peta kekuatan tenis dunia. Akankah dominasi AS berlanjut, atau justru petenis Eropa yang kembali mendominasi? Jawabannya akan terungkap dalam beberapa hari ke depan di lapangan rumput Wimbledon.



