Keputusan Safety Car Silverstone: Toto Wolff Dukung FIA, Kenangan Pahit 2021 Terbayang
Baca dalam 60 detik
- Grand Prix Inggris 2026 berakhir di belakang safety car, memicu kekecewaan penonton yang ingin melihat duel lap terakhir.
- Keputusan FIA mengikuti regulasi secara ketat, mengingatkan pada kontroversi Abu Dhabi 2021 yang mengubah aturan demi aksi balapan.
- Toto Wolff menilai kepatuhan pada aturan lebih penting daripada tontonan, meski mengakui situasi ini merugikan Lewis Hamilton.

Grand Prix Inggris di Silverstone, Minggu (5/7), berakhir dengan kontroversi setelah balapan dihentikan di belakang safety car pada lap terakhir. Keputusan yang diambil pengawas balapan FIA itu membuat sebagian penonton bersorak kecewa, namun mendapat dukungan penuh dari bos tim Mercedes, Toto Wolff.
Wolff menilai langkah tersebut sudah sesuai regulasi, meski mengakui bahwa penggemar tentu ingin melihat pertarungan sengit antara Lewis Hamilton (Ferrari) dan George Russell (Mercedes) di lap akhir. "Saya lebih berharap ini terjadi pada 2021," ujar Wolff, merujuk pada momen kontroversial di Abu Dhabi yang mengubah sejarah juara dunia.
Keputusan safety car kali ini mengingatkan pada drama Abu Dhabi 2021, ketika direktur balap saat itu, Michael Masi, mengubah prosedur agar balapan tidak berakhir di belakang safety car. Langkah tersebut memungkinkan Max Verstappen menyalip Hamilton di lap terakhir dan merebut gelar juara dunia pertamanya, sekaligus menggagalkan rekor kedelapan Hamilton.
Pada balapan kali ini, Hamilton justru menjadi pihak yang diuntungkan jika balapan dilanjutkan. Pembalap asal Inggris itu masuk pit saat safety car dikerahkan empat lap sebelum finis, mengganti ban lunak baru. Namun, karena lapped cars diperbolehkan melepas diri dan waktu tidak mencukupi, balapan berakhir tanpa aksi salip-menyalip. Hamilton finis ketiga, sementara Russell yang tidak pit menjadi runner-up di belakang Charles Leclerc.
Wolff menegaskan bahwa olahraga harus mengikuti aturan, bukan sebaliknya. "Pertunjukan mengikuti olahraga, bukan olahraga mengikuti pertunjukan. Jadi, keputusan FIA sudah tepat," katanya. Pernyataan ini kontras dengan sikapnya pada 2021, ketika ia mengkritik keras perubahan prosedur yang dianggap merugikan timnya.
Russell, yang beruntung bisa naik podium, mengakui bahwa finis di belakang safety car memang mengecewakan. Namun, ia mengingatkan bahwa insiden serupa jarang terjadi dalam 20 tahun terakhir. "Jika Anda melihat jumlah balapan yang berakhir di belakang safety car, sebenarnya tidak banyak. Ini memalukan, tapi apa boleh buat. Saya rasa tidak perlu diubah," ujarnya.
Hamilton sendiri mengaku tidak menyesali keputusan pit stop. "Tim meminta saya masuk. Saya mengira kami akan mempertahankan posisi. Jika mereka bilang saya akan kehilangan posisi, saya tidak akan melakukannya," ungkapnya dengan nada frustrasi.
Keputusan FIA kali ini menimbulkan pertanyaan baru tentang konsistensi regulasi safety car. Akankah badan pengatur balapan mampu mempertahankan prinsip sportivitas tanpa mengorbankan tontonan? Atau justru sebaliknya, tekanan dari penggemar dan penyelenggara akan kembali mengubah aturan di masa depan?



