Kebakaran TPA Jatiwaringin: 30 Personel Manggala Agni Dikerahkan, Kualitas Udara Memburuk
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah mengerahkan 30 personel Manggala Agni untuk memadamkan api di TPA Jatiwaringin yang telah membara sejak tiga hari lalu.
- Karakteristik kebakaran di timbunan sampah setinggi 20-30 meter membutuhkan teknik injeksi bertekanan tinggi, tidak cukup hanya water bombing.
- Konsentrasi PM2.5 mencapai 1.000, jauh di atas baku mutu 55, sehingga akses warga dibatasi untuk menghindari dampak kesehatan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) mengerahkan 30 personel Manggala Agni untuk memperkuat pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, yang telah berlangsung sejak Selasa (30/6) dan menyebabkan kualitas udara di sekitarnya berada pada level berbahaya.
Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan KLH, Rizal Irawan, mengungkapkan bahwa pengerahan personel dari Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (PPIKHL) di Makassar, Palembang, dan Jawa Barat ini merupakan respons langsung setelah Menteri Lingkungan Hidup berkoordinasi dengan Menteri Kehutanan. "Mereka akan membawa peralatan high pressure inject untuk memadamkan api di bawah permukaan," ujar Rizal di lokasi, Kamis (2/7).
Kebakaran di TPA memiliki tantangan tersendiri. Api tidak hanya membakar sampah di permukaan, tetapi juga menjalar di dalam tumpukan sampah yang mencapai ketinggian 20 hingga 30 meter. Menurut Rizal, pendekatan pemadaman harus disamakan dengan penanganan kebakaran gambut, di mana water bombing dari helikopter hanya efektif untuk api di atas. "Diperlukan peralatan khusus yang dimiliki Manggala Agni untuk menjangkau titik api di dalam timbunan," jelasnya.
Dampak asap kebakaran terhadap kesehatan masyarakat sangat serius. Data pemantauan menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai angka 1.000, jauh melampaui baku mutu 55. Sementara PM10 tercatat 750, sekitar sepuluh kali lipat dari ambang batas 75. Kondisi ini mendorong petugas gabungan melakukan penyekatan akses menuju TPA sejak Kamis sore. Jalur menuju Kecamatan Sukadiri ditutup pada radius 500 meter, sedangkan akses menuju Rajeg dibatasi 200 meter. Hanya kendaraan pemadam, medis, dan aparat yang diizinkan melintas.
Rizal menegaskan bahwa pembatasan akses bertujuan melindungi warga dari paparan asap berbahaya. "Sekarang fokus kami adalah pemadaman. Setelah api padam, baru akan dilakukan penyelidikan penyebab kebakaran," katanya. Proses pemadaman saat ini mengandalkan dua jalur: darat oleh petugas pemadam kebakaran dan udara dengan helikopter water bombing. Namun, dengan kehadiran Manggala Agni, diharapkan api di dalam timbunan dapat segera dijinakkan.
Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi pengingat akan kerentanan pengelolaan sampah di Indonesia. TPA dengan sistem open dumping masih rentan terhadap kebakaran, terutama saat musim kemarau. Gas metana yang dihasilkan dari dekomposisi sampah dapat menjadi pemicu api yang sulit dipadamkan. Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah pemerintah akan mempercepat konversi ke sanitary landfill atau teknologi pengolahan sampah yang lebih aman? Ataukah insiden ini hanya akan menjadi catatan kaki tanpa perubahan kebijakan berarti?



