Kebakaran TPA Jatiwaringin Hari Keenam: 102 Warga Mengungsi, 72 Terkena ISPA
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di TPA Jatiwaringin, Tangerang, memasuki hari keenam dengan 102 warga dievakuasi ke dua posko pengungsian.
- Sebanyak 72 warga dilaporkan menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap kebakaran.
- Petugas masih berupaya memadamkan sisa api seluas 1,68 hektare, dengan bantuan helikopter water bombing dan alat berat.

Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, belum juga padam hingga hari keenam, Minggu (5/7). Bencana ini telah memaksa 102 warga meninggalkan rumah mereka dan menyebabkan puluhan lainnya mengalami gangguan kesehatan akibat asap.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, seluruh pengungsi berasal dari Desa Tanjakan Mekar, Kecamatan Rajeg. Mereka kini ditampung di dua posko yang disediakan pemerintah daerah, yaitu Kantor Desa Tanjakan Mekar dan Kantor Desa Rajeg Mulya. Bupati Tangerang Maesyal Rasyid mengatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan posko sejak hari pertama kebakaran dan terus memantau kondisi warga.
Dampak kesehatan menjadi perhatian serius. Hingga saat ini, tercatat 72 warga mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat menghirup asap kebakaran. Dinas Kesehatan setempat bersama puskesmas telah menempatkan tenaga medis di posko pengungsian untuk memberikan penanganan. "Yang utama adalah kesehatan petugas dan masyarakat. Dinas Kesehatan dan puskesmas stay di posko pengungsian," ujar Maesyal.
Kebakaran yang mulai terjadi pada Selasa (30/6) ini melibatkan upaya pemadaman besar-besaran. Petugas pemadam kebakaran, personel Manggala Agni, alat berat, dan helikopter water bombing dikerahkan untuk menjinakkan api. Meskipun kondisi mulai terkendali, titik api masih tersisa sekitar 3,6 persen atau seluas 1,68 hektare dari total area terbakar sekitar 18 hektare.
Kebakaran TPA ini menjadi pengingat akan risiko pengelolaan sampah yang belum optimal di Indonesia. TPA Jatiwaringin merupakan salah satu tempat pemrosesan akhir di wilayah Tangerang yang kerap menghadapi masalah kebakaran, terutama saat musim kemarau. Gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah organik sering menjadi pemicu api, ditambah dengan kondisi cuaca kering yang memperparah penyebaran.
Pemerintah daerah berjanji akan terus memantau situasi dan memberikan bantuan kepada warga terdampak. Namun, pertanyaan besar masih menggantung: apakah penanganan kebakaran TPA ini akan diikuti dengan perbaikan sistem pengelolaan sampah jangka panjang, atau hanya menjadi siklus bencana yang berulang setiap tahun?



