Status Siaga Gunung Anak Krakatau: BPBD Pandeglang Minta Warga Pesisir Tingkatkan Kewaspadaan
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau meningkat ke Level III (Siaga), mendorong BPBD Pandeglang mengeluarkan imbauan waspada bagi masyarakat pesisir.
- Radius bahaya diperluas hingga lima kilometer dari kawah, dengan larangan bagi nelayan, wisatawan, dan penduduk mendekati gunung.
- Warga setempat tetap tenang namun waspada, mengingat trauma tsunami 2018 yang dipicu erupsi GAK dan menelan ratusan korban jiwa.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang, Banten, menginstruksikan masyarakat pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul peningkatan status Gunung Anak Krakatau (GAK) menjadi Level III atau Siaga. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi dampak erupsi yang berpotensi membahayakan keselamatan warga.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Strategi BPBD Pandeglang, Acep Firmansyah, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyebarluaskan peringatan ke seluruh lapisan masyarakat, mulai dari aparatur kecamatan hingga tingkat desa. "Kita sudah menyampaikan peringatan waspada erupsi Gunung Anak Krakatau kepada masyarakat, aparatur kecamatan hingga desa," ujarnya di Pandeglang, Sabtu (4/7).
Meski aktivitas vulkanik meningkat, situasi di pesisir Pandeglang dilaporkan relatif aman. Masyarakat tetap menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa, termasuk kegiatan jual beli di pasar dan pelayanan kesehatan di puskesmas serta rumah sakit yang berjalan normal. Namun, BPBD mengingatkan agar kewaspadaan tidak kendur, terutama bagi mereka yang tinggal di zona rawan.
Status GAK dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) berdasarkan pemantauan peningkatan aktivitas vulkanik. Imbauan keras disampaikan kepada nelayan, wisatawan, dan warga untuk tidak mendekati kawasan gunung dalam radius lima kilometer dari kawah. "Kami minta nelayan, wisatawan, dan warga agar tidak mendekati kawasan GAK, karena khawatir terdampak bebatuan pijar. Petugas merekomendasikan radius lima kilometer dari gunung," tegas Acep.
Sejumlah pedagang di Labuan, Pandeglang, mengaku tetap tenang meski status gunung dinaikkan. Suherman, seorang warga Labuan, menyatakan bahwa masyarakat sudah terbiasa dengan peningkatan erupsi GAK. "Kami tetap tenang, namun tetap waspada, serta jangan sampai terulang kembali tsunami 2018 hingga ratusan orang meninggal dan ribuan orang mengungsi," katanya. Pengalaman pahit tersebut menjadi pengingat akan dahsyatnya dampak erupsi GAK.
Secara geologis, Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api yang terbentuk di kaldera Krakatau setelah letusan dahsyat 1883. Aktivitasnya kerap meningkat secara periodik, dan letusan pada Desember 2018 memicu longsoran bawah laut yang menghasilkan tsunami di Selat Sunda. Peristiwa itu menewaskan lebih dari 400 orang dan menyebabkan kerusakan parah di pesisir Banten dan Lampung.
BPBD Pandeglang terus memantau perkembangan aktivitas GAK dan berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Masyarakat diimbau untuk mengikuti arahan petugas dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah peningkatan status ini menjadi awal dari rangkaian erupsi yang lebih besar, atau sekadar fluktuasi biasa yang dapat dikelola dengan kewaspadaan?



