Rusia Hantam Kyiv dengan Lebih dari 500 Rudal dan Drone, 21 Tewas
Baca dalam 60 detik
- Serangan gabungan rudal dan drone Rusia pada Kamis dini hari menewaskan sedikitnya 21 warga sipil dan melukai puluhan lainnya di Kyiv.
- Presiden Zelenskyy menuding keterlambatan pengiriman sistem pertahanan udara dari sekutu sebagai penyebab tingginya jumlah korban.
- Serangan ini merupakan yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir dan memicu respons diplomatik serta militer dari negara tetangga seperti Polandia dan Finlandia.

Rusia melancarkan serangan gabungan rudal dan drone terbesar dalam perang lima tahun terakhir ke ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Kamis (2/7) dini hari, menewaskan sedikitnya 21 orang dan melukai lebih dari 90 lainnya. Ratusan bangunan rusak, termasuk kompleks laboratorium biokimia nasional dan tempat tinggal diplomat Uni Eropa.
Menurut Angkatan Udara Ukraina, sebanyak 74 rudal dan 496 drone diluncurkan dalam gelombang serangan yang berlangsung berjam-jam. Ledakan bergema di seluruh kota, memaksa ribuan warga berlindung di stasiun metro dan tempat penampungan bawah tanah. Ini adalah serangan paling mematikan di Kyiv sejak Mei lalu, dengan skala kerusakan yang meluas ke seluruh penjuru kota berpenduduk 3 juta jiwa.
Presiden Volodymyr Zelenskyy yang memotong kunjungannya ke Irlandia dan kembali ke Kyiv, langsung meninjau lokasi reruntuhan gedung apartemen sembilan lantai di tepi kiri kota. Dalam pernyataan yang penuh frustrasi, ia menyalahkan sekutu atas keterlambatan pengiriman sistem pertahanan udara yang dijanjikan. “Jika mitra kami menepati janji tepat waktu, kami bisa menyelamatkan lebih banyak rumah dan nyawa hari ini,” ujarnya. “Kami hanya meminta mereka melakukan apa yang sudah disepakati, tidak lebih.”
Juru bicara Angkatan Udara Ukraina, Yuri Ihnat, mengungkapkan bahwa jumlah rudal balistik dalam serangan itu sangat tinggi dan tingkat intersepsinya rendah. Ukraina memang mengalami kekurangan rudal Patriot dalam beberapa bulan terakhir. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia melalui Telegram menyatakan serangan “besar-besaran” itu menargetkan fasilitas militer, energi, dan bandara di Kyiv dan lokasi lain, sebagai balasan atas serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia. Kyiv sendiri mengaku telah menghantam kilang minyak di Nizhny Novgorod pada malam yang sama, menewaskan satu orang.
Kremlin mengonfirmasi bahwa komandan militer telah melaporkan serangan itu kepada Presiden Vladimir Putin, dan Moskow akan terus meningkatkan tekanan terhadap Ukraina untuk mencapai tujuan perangnya. Di sisi lain, Duta Besar Uni Eropa untuk Ukraina, Katarina Mathernova, menyebut Rusia “melepaskan neraka di Kyiv” dan mengatakan bahwa tempat tinggal diplomat terkena serangan, meskipun para diplomat selamat. “Rusia menghancurkan neraka di Kyiv,” tulisnya di media sosial.
Lebih dari 600 petugas penyelamat masih menyisir puing-puing di sejumlah lokasi hingga malam hari. Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengumumkan hari berkabung pada Jumat (3/7). “Kami kehilangan apartemen kami,” tulis Iryna Plekhova, warga Kyiv, di Facebook sambil mengunggah foto gedung apartemennya yang hancur tanpa jendela. Institut Biokimia Nasional juga hancur; laboratorium mutakhir dan kantornya ludes terbakar. Ahli biologi Yurii Danylovych menyebutnya “bencana bagi ilmu kedokteran dan biologi Ukraina.”
Serangan ini memicu respons keamanan di negara tetangga. Polandia, anggota NATO dan Uni Eropa, sempat mengerahkan jet tempur sebagai tindakan pencegahan. Finlandia juga memberlakukan zona larangan terbang sementara di Teluk Finlandia timur. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menegaskan bahwa hanya dukungan militer berkelanjutan untuk Ukraina dan tekanan lebih besar pada Moskow yang bisa menghentikan serangan Rusia. “Hari ini saya akan mengusulkan sanksi terhadap lebih banyak entitas yang mendukung kompleks industri militer Rusia,” ujarnya. “Semakin Moskow menyerang warga sipil, semakin banyak sanksi yang harus dijatuhkan.”
Bagi Indonesia, eskalasi ini kembali mengingatkan pada pentingnya kemandirian pertahanan dan diplomasi aktif. Serangan massal terhadap infrastruktur sipil seperti yang terjadi di Kyiv menunjukkan bahwa konflik bersenjata modern tidak lagi mengenal batas antara target militer dan warga biasa. Indonesia, yang kerap menyerukan perdamaian dan penghormatan hukum humaniter internasional, perlu mencermati bagaimana tekanan sanksi dan bantuan militer dapat memengaruhi dinamika perang. Apakah serangan brutal ini akan mendorong negosiasi damai atau justru memperpanjang siklus kekerasan?



