China-Russia Gelar Latihan Laut Gabungan, Isyarat Solidaritas di Tengah Perang Ukraina
Baca dalam 60 detik
- Angkatan laut China dan Rusia akan menggelar latihan bersama 'Joint Sea-2026' di perairan Qingdao pada Juli ini, diikuti patroli bersama di Samudra Pasifik.
- Langkah ini mempertegas kedekatan kedua negara yang sama-sama menentang dominasi AS, meskipun China terus menyatakan netralitas dalam konflik Ukraina.
- Latihan tahunan yang sudah berlangsung sejak 2012 ini dipandang Barat sebagai bentuk dukungan terselubung China terhadap Rusia di tengah perang yang masih berlangsung.

China dan Rusia kembali menggelar latihan angkatan laut bersama pada bulan Juli ini, sebuah sinyal solidaritas militer di tengah meningkatnya ketegangan global akibat perang Rusia di Ukraina. Latihan bertajuk 'Joint Sea-2026' itu akan berlangsung di perairan dan wilayah udara sekitar Qingdao, kota pelabuhan militer utama di timur China, demikian pernyataan Kementerian Pertahanan China pada Minggu (5/7).
Setelah latihan, sejumlah pasukan dari kedua negara akan melanjutkan patroli bersama di kawasan Samudra Pasifik. Meski tidak dirinci skala mobilisasi, langkah ini disebut Beijing sebagai upaya "bersama merespons tantangan keamanan dan menjaga perdamaian serta stabilitas regional."
Latihan ini berlangsung sekitar dua bulan setelah kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke China. Saat itu, Putin menyebut hubungan kedua negara berada pada "tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," sementara Presiden China Xi Jinping memuji kemitraan yang "tak tergoyahkan."
Bagi Indonesia, latihan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara yang menganut politik bebas aktif, Indonesia perlu mencermati dinamika aliansi militer di kawasan. Meski China dan Rusia menyatakan latihan ini bersifat defensif, pengamat menilai peningkatan aktivitas militer di Pasifik dapat memicu ketegangan dengan negara-negara tetangga, termasuk Indonesia yang memiliki perbatasan maritim dengan China di Laut Natuna Utara.
Menurut analis hubungan internasional dari Universitas Indonesia, latihan semacam ini juga menjadi sinyal bahwa China dan Rusia semakin mempererat kerja sama di bidang pertahanan sebagai respons terhadap tekanan Barat. "Ini bukan sekadar latihan rutin, melainkan pesan politik bahwa kedua negara siap menghadapi tantangan keamanan bersama," ujarnya.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, China terus menolak mengutuk Moskow. Sebaliknya, Beijing kerap menyerukan dialog damai. Namun, negara-negara Barat, khususnya AS, mencurigai China memberikan dukungan material kepada Rusia, meskipun Beijing membantahnya. Latihan 'Joint Sea-2026' ini kemungkinan akan semakin memperkuat kecurigaan tersebut.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana kerja sama militer China-Rusia akan berkembang. Apakah akan melibatkan lebih banyak negara, atau justru memicu respons dari aliansi pertahanan lain seperti AUKUS atau NATO? Bagi Indonesia, menjaga keseimbangan hubungan dengan semua pihak menjadi tantangan tersendiri di tengah rivalitas kekuatan besar yang kian memanas.



