Pendeta Gereja Bawah Tanah Dibebaskan China, Isyarat Pelonggaran Tekanan pada Iman?
Baca dalam 60 detik
- Pendeta Ezra Jin Mingri dari Zion Church tiba di Los Angeles pada 4 Juli 2026, setelah ditahan sejak Oktober 2025.
- Pembebasan terjadi kurang dari dua bulan setelah Presiden AS Donald Trump meminta Presiden Xi Jinping meninjau kasus ini.
- Delapan anggota gereja lainnya masih ditahan; langkah ini dipandang sebagai sinyal potensi perbaikan hubungan bilateral dan kebebasan beragama.

Pendeta Ezra Jin Mingri, pemimpin gereja bawah tanah Zion Church yang ditahan aparat China sejak Oktober 2025, akhirnya menghirup udara bebas dan tiba di Los Angeles pada 4 Juli 2026. Pembebasan ini terjadi hanya beberapa pekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara khusus menyebut kasusnya dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Xi Jinping di Beijing.
Kabar gembira ini pertama kali disampaikan oleh Frances Hui dari Committee for Freedom in Hong Kong Foundation melalui platform X, yang menyatakan bahwa Jin telah bersatu kembali dengan keluarganya. Inter-Parliamentary Alliance on China, kelompok legislatif negara-negara Barat, turut mengonfirmasi dan membagikan foto sang pendeta bersama putrinya, Grace Jin Drexel, dengan wajah sumringah.
Jin ditahan bersama 17 pemimpin gereja lainnya dalam salah satu operasi penindakan terbesar terhadap satu gereja dalam beberapa dekade terakhir. Penangkapan massal itu memicu kekhawatiran global akan meningkatnya pembatasan kebebasan beragama di China. Sejak Oktober, Jin ditahan di pusat penahanan di Kota Beihai, China selatan.
Lembaga swadaya masyarakat Kristen, ChinaAid, menyambut baik pembebasan ini. Dalam pernyataannya, mereka mengungkapkan rasa syukur mendalam dan berharap langkah ini menjadi titik balik bagi kebebasan beragama di China. Keluarga Jin, melalui pernyataan terpisah, mengakui peran langsung Presiden Xi dalam pembebasan tersebut dan berharap ini menjadi sinyal positif bagi hubungan bilateral AS-China.
Namun, situasi belum sepenuhnya pulih. Grace Jin, putri pendeta, mengungkapkan kepada Reuters bahwa delapan anggota Zion Church lainnya masih mendekam di tahanan. Gereja Zion sendiri didirikan di Beijing pada 2007 dan sempat berkembang pesat hingga 1.500 jemaat sebelum akhirnya ditutup pada 2018 di bawah tekanan pemerintah. Selama pandemi, gereja ini bertahan melalui platform daring dan berhasil menjaring pengikut di 40 kota di China.
Kebijakan China terhadap kelompok keagamaan informal memang semakin ketat di bawah kepemimpinan Xi. Partai Komunis China secara historis memandang organisasi keagamaan dengan kecurigaan. Dalam beberapa bulan terakhir, aparat menggerebek kebaktian Early Rain Covenant Church di Sichuan dan menahan dua pemimpinnya, menyusul penahanan beberapa anggota senior sebelumnya. Di Zhejiang, Gereja Yayang bahkan dipasangi perancah dan salibnya dicopot.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik dicermati. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan pengakuan terhadap enam agama resmi, Indonesia kerap menjadi sorotan dalam isu kebebasan beragama. Langkah China yang mulai melonggarkan tekanan pada kelompok minoritas agama bisa menjadi preseden bagi negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia, dalam mengelola keragaman keyakinan. Namun, perlu diingat bahwa delapan tahanan masih belum dibebaskan, dan penindakan terhadap gereja tak terdaftar masih terus berlangsung.
Pembebasan Jin tentu membawa angin segar, tetapi pertanyaan besarnya adalah: apakah ini sekadar konsesi diplomatik sesaat, atau awal dari perubahan kebijakan yang lebih mendasar? Dengan masih adanya tahanan dan operasi penertiban yang berlanjut, dunia akan terus mengawasi langkah Beijing selanjutnya.



