Putaran Baru Negosiasi Iran-AS Tertunda hingga Pemakaman Pemimpin Tertinggi
Baca dalam 60 detik
- Mediator Qatar dan Pakistan mengonfirmasi babak berikutnya perundingan tidak langsung Iran-AS baru akan digelar setelah prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei rampung.
- Kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz telah dicapai, namun isu nuklir Iran dan gencatan senjata di Lebanon masih menjadi ganjalan utama.
- Ketegangan militer di Teluk masih berlanjut dengan saling serang, sementara Iran menolak negosiasi langsung dan menuntut pencairan aset beku senilai miliaran dolar.

Perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru dengan kepastian bahwa putaran berikutnya baru akan digelar setelah pemakaman Ayatollah Ali Khamenei selesai. Mediator dari Qatar dan Pakistan, yang memfasilitasi pertemuan di Doha pada Rabu (1/7), menyatakan bahwa kedua pihak sepakat untuk melanjutkan dialog meskipun masih ada ketegangan militer di kawasan Teluk.
Dalam pernyataan bersama, Pakistan mengungkapkan bahwa pertemuan teknis yang berlangsung di ibu kota Qatar itu menghasilkan kemajuan positif. Namun, jadwal pertemuan selanjutnya harus menunggu hingga rangkaian pemakaman mantan pemimpin tertinggi Iran itu usai. Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan pada 28 Februari lalu, dan kekuasaan telah beralih ke putranya, Mojtaba. Jenazahnya akan disemayamkan di kompleks pusat Teheran mulai Sabtu ini, dan dimakamkan di Mashhad pada 9 Juli.
Kesepakatan sementara yang dicapai sebelumnya mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan minyak dunia. Namun, agenda utama seperti program nuklir Iran dan penghentian permusuhan di Lebanon masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan akhir harus mencakup penghentian konflik di Lebanon dan penarikan pasukan Israel dari wilayah selatan negara itu.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, yang memimpin delegasi Teheran, mengungkapkan bahwa pembahasan juga menyentuh masalah aset beku Iran. Kedua pihak sepakat untuk menggunakan sebagian dari dana awal sebesar US$6 miliar untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan Iran. Selain itu, sebuah saluran komunikasi akan dibentuk untuk mencatat dan melaporkan dugaan pelanggaran terhadap nota kesepahaman yang telah disepakati.
Presiden AS Donald Trump, dalam pernyataannya sebelum menaiki Air Force One, mengklaim bahwa proses denuklirisasi Iran berjalan baik. "Kami memukul mereka sangat keras... tapi kami rukun," ujarnya. Namun, Iran dengan tegas menolak negosiasi langsung. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk berdialog dengan pihak Amerika dalam waktu dekat.
Ketegangan di lapangan masih terasa. Setelah kesepakatan ditandatangani bulan lalu, terjadi saling serang di Teluk. Iran menembaki sebuah kapal komersial yang dianggap menyimpang dari jalur, sementara Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan telah menghantam 10 target militer Iran. Sebagai balasan, Iran menyerang pangkalan-pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain, yang memicu kecaman dari kedua negara Teluk tersebut.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Selat Hormuz adalah jalur utama bagi pasokan minyak mentah ke pasar Asia, termasuk Indonesia. Gangguan di selat tersebut dapat memicu lonjakan harga energi dan mengganggu stabilitas pasokan dalam negeri. Selain itu, eskalasi konflik di Timur Tengah selalu berdampak pada harga komoditas global dan arus investasi, yang perlu diantisipasi oleh para pemangku kepentingan di Jakarta.
Ketua negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengakui bahwa tantangan implementasi pasca-perang besar tidak bisa dihindari. "Pasti akan ada insiden dan perbedaan pendapat, terutama dengan keterlibatan rezim Israel," katanya. Sementara itu, di front Lebanon, pertempuran antara Israel dan Hizbullah relatif mereda, namun Iran bersikeras bahwa gencatan senjata di sana harus menjadi bagian dari kesepakatan menyeluruh.
Pertanyaan besarnya kini: akankah jeda pemakaman dimanfaatkan untuk meredakan ketegangan, atau justru menjadi celah bagi eskalasi baru? Dengan saling klaim kendali atas Selat Hormuz dan masih adanya bentrokan bersenjata, jalan menuju perdamaian masih terjal dan penuh ketidakpastian.



