El Niño 2026 Diprediksi Jadi 'Super El Niño': Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Peluang El Niño 2026 menjadi super El Niño mencapai 60%, dengan potensi memicu bencana hidrometeorologi global.
- Fenomena ini diperparah oleh pemanasan laut akibat perubahan iklim, meningkatkan risiko banjir dan kekeringan ekstrem.
- Indonesia perlu waspada terhadap potensi kemarau panjang dan gangguan pola hujan yang dapat mempengaruhi sektor pertanian.

Fenomena El Niño yang mulai aktif pada 2026 diprediksi memiliki peluang lebih dari 60% untuk berkembang menjadi super El Niño, sebuah kejadian cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir besar, kekeringan parah, dan badai di berbagai belahan dunia. Para ilmuwan mengingatkan bahwa pemanasan global memperkuat dampaknya, menjadikan tahun ini salah satu yang paling kritis dalam siklus iklim modern.
El Niño lahir dari menghangatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian timur dekat ekuator. Fenomena alami ini telah dikenal sejak abad ke-17 oleh nelayan Peru dan Ekuador yang melihat ikan teri menghilang saat air laut menghangat. Mereka menamakannya El Niño—"anak laki-laki" atau "bayi Kristus"—karena puncaknya sering terjadi sekitar Natal. Kini, dengan data satelit dan model iklim, para ahli dapat memprediksi kekuatannya jauh-jauh hari.
Menurut Ioana Colfescu, pakar iklim dan pembelajaran mesin dari University of St Andrews dan University of Edinburgh, indikator saat ini menunjukkan pola yang mirip dengan El Niño besar sebelumnya. "Kami memiliki indikator yang menempatkan El Niño ini dalam pola yang sama dengan tanda-tanda El Niño sangat besar lainnya," ujarnya. Namun, ia menekankan bahwa indeks suhu belum tentu sejalan dengan dampak nyata di lapangan.
El Niño 2023-2024 tercatat sebagai salah satu yang terkuat dalam sejarah, menyebabkan banjir dahsyat di Brasil dan menjadikan 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat. Akan tetapi, beberapa efek yang diharapkan tidak terjadi. Colfescu menjelaskan bahwa dampak El Niño bersifat "nuansa" dan respons di daerah tropis bisa berbeda dengan di luar tropis. Artinya, tidak semua wilayah akan mengalami bencana secara serempak.
Bagi Indonesia, El Niño kerap dikaitkan dengan musim kemarau yang lebih panjang dan kering, mengancam produksi pangan serta meningkatkan risiko kebakaran hutan. Sebaliknya, di beberapa wilayah bisa terjadi peningkatan curah hujan ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu memantau perkembangan ini untuk memberikan peringatan dini yang akurat. Petani dan pengelola sumber daya air harus bersiap menghadapi ketidakpastian pola hujan.
Colfescu memperingatkan bahwa kondisi cuaca ekstrem yang terjadi kemungkinan akan "jauh lebih buruk karena El Niño saat ini tumpang tindih dengan lautan yang sudah hangat akibat perubahan iklim." Dengan kata lain, perubahan iklim bertindak sebagai penguat, bukan penyebab utama. Hal ini membuat prediksi dampak menjadi semakin kompleks.
Ke depan, pertanyaan krusial adalah seberapa siap Indonesia dan negara-negara tropis lainnya menghadapi skenario terburuk? Sistem peringatan dini, infrastruktur tahan iklim, dan cadangan pangan menjadi kunci. Jika super El Niño benar-benar terjadi, kolaborasi global dan adaptasi lokal akan menentukan seberapa besar kerugian yang bisa diminimalkan.



