Antonelli di Ambang Sejarah: Enam Kemenangan Beruntun Berkat Pelajaran Pahit di Musim Perdana
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli, pembalap Mercedes berusia 19 tahun, berpeluang meraih kemenangan keenam beruntun di GP Barcelona, menyamai total kemenangan rekan setimnya George Russell.
- Kesuksesan musim ini disebut Antonelli sebagai buah dari pengalaman sulit di musim rookie 2025, termasuk empat kali gagal finis dalam enam balapan.
- Max Verstappen memuji konsistensi Antonelli yang dianggap luar biasa untuk seusianya, mengingatkan pada awal karier Verstappen sendiri.
Kimi Antonelli, pembalap Mercedes yang memuncaki klasemen Formula 1 musim ini, mengaku bahwa rentetan kemenangan yang mungkin mencapai enam balapan beruntun akhir pekan ini tidak lepas dari pelajaran berharga yang ia petik selama musim debutnya yang penuh gejolak pada 2025. Pembalap Italia berusia 19 tahun itu kini menjadi sorotan setelah tampil dominan di awal musim 2026, mengungguli rekan setimnya yang lebih senior, George Russell, dan memecahkan rekor sebagai pemimpin klasemen termuda serta pemenang Grand Prix Monaco termuda.
Menjelang Grand Prix Barcelona-Catalunya, Antonelli menegaskan bahwa pengalaman satu tahun penuh di Formula 1 memberinya pemahaman lebih dalam tentang ritme balapan dan manajemen energi. "Saya pikir pengalaman setahun memainkan peran besar. Anda jadi lebih paham evolusi trek selama sesi, struktur akhir pekan, dan cara menyeimbangkan energi. Semua hal kecil itu pada akhirnya berdampak besar," ujarnya dalam konferensi pers di Barcelona, Jumat (12/6).
Musim 2025 menjadi titik balik bagi Antonelli. Ia mengakui sempat dilanda keraguan diri, terutama saat menjalani rangkaian balapan Eropa yang berat. Empat kali gagal finis dalam enam seri dari Imola hingga Silverstone membuatnya terpuruk di peringkat ketujuh klasemen akhir dengan 150 poin, jauh di bawah Russell yang mengoleksi 319 poin. Namun, Antonelli justru bersyukur atas masa sulit itu. "Saat itu terasa sangat buruk, tapi sekarang saya berterima kasih karena itu membuat saya tumbuh dan mengenal diri sendiri lebih baik. Musim ini, saya tidak pernah ragu atau mempertanyakan kemampuan saya," katanya.
Kebangkitan Antonelli tidak luput dari perhatian para rival. Max Verstappen, juara dunia empat kali asal Red Bull, memuji konsistensi pembalap muda tersebut. "Pada usia segitu, melakukan apa yang dia lakukan dan berusaha menemukan konsistensi itu sangat mengesankan. Saya senang untuknya. Dia jelas berbakat besar, dan saya sudah tahu itu sejak awal. Di musim rookie pasti ada kesalahan, tapi yang penting adalah bagaimana belajar darinya. Dan menurut saya dia melakukannya dengan sangat baik," ujar Verstappen, yang memulai debut di usia 17 tahun dan memenangi balapan pertamanya di Barcelona pada 2016 sebagai pemenang termuda saat itu.
Dominasi Antonelli musim ini juga menarik perhatian penggemar F1 di Indonesia, mengingat popularitas olahraga ini yang terus tumbuh di Tanah Air. Meski belum ada pembalap Indonesia yang berlaga di F1, kesuksesan pembalap muda seperti Antonelli kerap menjadi inspirasi bagi bakat-bakat lokal yang bercita-cita menembus ajang balap tertinggi. Momentum ini juga sejalan dengan meningkatnya minat terhadap siaran F1 di platform digital Indonesia.
Dengan keunggulan 42 poin atas Russell di klasemen, Antonelli berada di ambang sejarah. Namun, tekanan tetap ada: Barcelona adalah sirkuit yang menuntut teknik tinggi, dan persaingan dengan Verstappen serta pembalap Ferrari Charles Leclerc diprediksi ketat. Pertanyaannya, mampukah Antonelli mempertahankan laju kemenangan dan mengukuhkan diri sebagai fenomena baru di Formula 1?



