Super Giants Akhirnya Pecah Telur di The Hundred: Comeback Dramatis di Lord's
Baca dalam 60 detik
- Manchester Super Giants menaklukkan Trent Rockets dengan lima wicket di final The Hundred, meraih gelar perdana mereka di kompetisi tersebut.
- Penampilan gemilang Tim Seifert (72 dari 38 bola) menjadi pembeda, meski sempat terjadi ketegangan di akhir laga.
- Kemenangan ini mengukuhkan dominasi tim asal Old Trafford dan membuka peluang mereka untuk bersaing di musim-musim berikutnya.

Manchester Super Giants akhirnya memecahkan telur di kompetisi The Hundred. Bertanding di hadapan 27.416 penonton di Lord's, Minggu (18/8), mereka menaklukkan Trent Rockets dengan lima wicket, sekaligus mengamankan gelar perdana dalam sejarah partisipasi mereka. Kemenangan ini tidak hanya mengakhiri puasa gelar sejak dua kali kalah di final, tetapi juga menegaskan transformasi tim yang sebelumnya dikenal sebagai Manchester Originals.
Jalannya pertandingan berlangsung menegangkan hingga bola terakhir. Super Giants sebenarnya berada di posisi nyaman saat membutuhkan tiga angka dari sembilan bola terakhir. Namun, Mohammad Amir tampil garang dengan memecahkan dua wicket beruntun, disusul dua bola dot dari Ben Sanderson yang membuat persamaan menjadi tiga angka dari tiga bola. Ketegangan makin memuncak saat Liam Dawson gagal di dua bola pertamanya, tetapi pukulan six-nya yang melambung tinggi melewati batas lapangan memastikan kemenangan dengan dua bola tersisa.
Bintang kemenangan Super Giants adalah Tim Seifert. Penjaga gawang asal Selandia Baru itu tampil brutal dengan 72 angka dari 38 bola, dihiasi tujuh six dan empat four. Penampilannya seakan menjadi pembeda, mengingat para pemukul Rockets gagal memanfaatkan start yang menjanjikan. Seifert bahkan menyamai rekor skor tertinggi di final The Hundred yang sebelumnya dipegang Will Jacks, dan mengakhiri turnamen sebagai pencetak angka terbanyak kedua dengan 394 run, hanya kalah dari Mitchell Marsh.
Namun, kemenangan ini nyaris menjadi mimpi buruk bagi Super Giants. Di awal babak pertama, mereka sempat kehilangan dua wicket dalam empat bola, termasuk kapten Sam Billings yang terkena run out dan Tim David yang gagal di bola pertama. Meski demikian, kontribusi Paul Walter dan Jos Buttler yang masing-masing mencetak 66 dan 23 angka sempat membawa mereka ke jalur kemenangan. Sayangnya, di akhir laga, mereka nyaris kehilangan kendali sebelum Dawson menyelamatkan situasi.
Bagi Trent Rockets, kekalahan ini tentu menyakitkan. Mereka finis di puncak klasemen dan melaju langsung ke final, tetapi gagal menjadi franchise pertama yang menjuarai kompetisi putra dan putri dalam edisi yang sama. Padahal, tim putri Rockets baru saja meraih gelar juara sehari sebelumnya. Kegagalan ini juga memperpanjang penantian mereka untuk gelar kedua setelah sukses di 2022.
Dari perspektif kriket global, kemenangan ini menunjukkan semakin ketatnya persaingan di The Hundred. Turnamen yang baru berusia empat tahun ini telah melahirkan banyak kejutan, dan final tahun ini menjadi salah satu yang paling dramatis. Bagi penggemar kriket di Indonesia, meskipun The Hundred belum sepopuler IPL atau BBL, pertandingan seperti ini bisa menjadi tontonan menarik yang memperkaya wawasan tentang format kriket modern yang lebih cepat dan dinamis.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Super Giants mampu mempertahankan konsistensi mereka. Dengan pemain seperti Seifert dan Walter yang sedang dalam performa terbaik, serta dukungan manajemen baru, mereka berpotensi menjadi kekuatan dominan. Namun, rivalitas dengan tim-tim lain seperti Rockets dan Southern Brave dipastikan akan semakin sengit. Satu hal yang pasti, gelar ini akan menjadi fondasi penting bagi ambisi mereka di musim-musim mendatang.



