Dominasi Inggris di Sprint Eropa: Hunt dan Asher-Smith Ukir Sejarah di Birmingham
Baca dalam 60 detik
- Inggris Raya mengamankan emas keempat Amy Hunt dalam lari estafet campuran 4x100m dengan rekor Eropa 39,97 detik.
- Dina Asher-Smith kini menjadi atlet paling sukses dalam sejarah Kejuaraan Eropa dengan total delapan emas dan sebelas medali.
- Prestasi ini menegaskan kekuatan sprint Inggris dan bisa menjadi inspirasi bagi atlet Asia, termasuk Indonesia, dalam menghadapi kompetisi internasional.

Birmingham, 12 Juni 2025 โ Inggris Raya kembali menunjukkan dominasinya di lintasan sprint Eropa. Pada hari terakhir Kejuaraan Atletik Eropa di Birmingham, tim tuan rumah meraih emas dalam nomor estafet campuran 4x100m dengan catatan waktu 39,97 detik, sekaligus memecahkan rekor Eropa. Kemenangan ini mengukuhkan Amy Hunt sebagai atlet pertama yang meraih empat emas dalam satu edisi kejuaraan, sementara Dina Asher-Smith menorehkan namanya sebagai atlet paling sukses dalam sejarah kompetisi yang telah berlangsung 92 tahun.
Hunt, yang baru berusia 24 tahun, tampil gemilang di sepanjang kejuaraan. Setelah memenangi nomor 100m, 200m, dan estafet 4x100m putri, ia kembali menjadi penentu kemenangan dalam estafet campuran. Berlari di leg terakhir, Hunt berhasil menahan laju sprinter Jerman, Gina Luckenkemper, di lintasan lurus. Begitu melewati garis finis, ia mengangkat empat jari ke arah kamera, menandakan koleksi emasnya yang keempat minggu ini. Sebelumnya, Hunt telah menyatakan ambisinya untuk merebut semua gelar sprint, sebuah target yang ia sebut sebagai upaya untuk menjadi "ikonik".
Keberhasilan Hunt melengkapi pencapaian luar biasa Asher-Smith, yang kini mengoleksi delapan emas dan total sebelas medali dalam karier internasionalnya. Dengan tambahan medali emas dari estafet campuran, Asher-Smith resmi menjadi atlet paling sukses dalam sejarah Kejuaraan Eropa, mengungguli rekor sebelumnya yang dipegang oleh atlet-atlet legendaris. Rekan setimnya, Zharnel Hughes, juga mencatatkan namanya dalam buku sejarah dengan meraih emas kelimanya, menyamai pencapaian Mo Farah dan Roger Black sebagai atlet putra Inggris paling sukses di ajang ini.
Selain dominasi di nomor sprint, Inggris juga meraih emas melalui Georgia Hunter Bell di nomor 1500m putri. Hunter Bell, yang sempat pensiun selama lima tahun, tampil percaya diri dengan mengontrol jalannya lomba sejak awal dan melepaskan diri di lap terakhir. Kemenangan ini menjadi medali internasional ketujuhnya dalam dua tahun terakhir, menandai kebangkitan luar biasa setelah kembali ke dunia atletik. Dengan tambahan emas ini, Inggris Raya kini memuncaki klasemen medali dengan total sembilan emas dan 16 medali secara keseluruhan, mengungguli Italia.
Keberhasilan Inggris ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi tuan rumah, tetapi juga memberikan pelajaran berharga bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia. Di Asia Tenggara, atletik sering kali kurang mendapat perhatian dibandingkan bulu tangkis atau sepak bola. Namun, prestasi seperti yang ditunjukkan Hunt dan Asher-Smith membuktikan bahwa dengan pembinaan yang tepat, seorang atlet bisa mencapai level tertinggi. Indonesia sendiri memiliki potensi sprinter muda yang perlu diasah lebih serius, terutama dengan adanya ajang SEA Games dan Asian Games sebagai panggung pembuktian.
Di sisi lain, keberhasilan Inggris ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan atlet-atlet Asia untuk bersaing di level Eropa. Meski beberapa atlet Asia seperti China dan Jepang telah menunjukkan kemajuan, jarak dengan atlet Eropa masih cukup signifikan. Namun, dengan semakin banyaknya ajang internasional dan program pelatihan yang lebih modern, bukan tidak mungkin Indonesia suatu saat bisa memiliki atlet sekaliber Hunt atau Asher-Smith. Yang dibutuhkan adalah komitmen jangka panjang dari pemerintah dan federasi atletik nasional.
Kejuaraan Eropa kali ini juga menjadi ajang pembuktian bahwa estafet campuran, yang baru pertama kali dipertandingkan, mampu menyajikan tontonan menarik dan strategi yang kompleks. Bagi Indonesia, ini bisa menjadi peluang untuk mengeksplorasi nomor-nomor baru yang mungkin lebih sesuai dengan karakteristik atletnya. Dengan perpaduan kecepatan dan teknik, estafet campuran bisa menjadi medan baru bagi Indonesia untuk meraih prestasi di kancah internasional.
Ke depan, tantangan bagi Inggris adalah mempertahankan dominasi ini di ajang yang lebih bergengsi seperti Olimpiade dan Kejuaraan Dunia. Sementara bagi Indonesia, pertanyaannya adalah: apakah kita siap untuk mulai berinvestasi serius pada atletik? Jika ya, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan kita akan melihat nama Indonesia bersaing di level tertinggi. Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: kesuksesan Inggris ini adalah bukti bahwa dengan kerja keras dan dukungan yang tepat, segala sesuatu mungkin terjadi.



