Mercedes Ajukan Banding Hasil GP Monako: Kesalahan Pengukuran Pit Lane Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Mercedes meminta FIA meninjau hasil GP Monako setelah George Russell kehilangan 15 poin akibat penalti pit lane yang keliru.
- Alpine berhasil mengembalikan posisi Pierre Gasly ke podium setelah terbukti ada kesalahan pengukuran jarak pit lane.
- Kasus ini membuka diskusi tentang akurasi sistem penalti di F1 dan potensi perubahan prosedur pengukuran.

Mercedes secara resmi mengajukan permohonan hak peninjauan (right of review) kepada Federasi Otomotif Internasional (FIA) terkait hasil Grand Prix Monako yang kontroversial. Langkah ini diambil setelah pembalap mereka, George Russell, kehilangan 15 poin akibat penalti yang dinilai timnya tidak adil.
Insiden bermula ketika Russell, yang saat itu berada di posisi ketiga, dijatuhi penalti drive-through karena dianggap melanggar batas kecepatan di pit lane. Hukuman tersebut membuatnya terlempar ke urutan ke-12. Namun, setelah penyelidikan lebih lanjut, diketahui bahwa pengukuran jarak pit lane yang digunakan FIA ternyata keliru. Hal ini menyebabkan beberapa pembalap dihukum secara tidak tepat.
Alpine, yang juga dirugikan oleh kesalahan serupa, telah lebih dulu mengajukan banding dan berhasil mengembalikan posisi Pierre Gasly ke podium ketiga. Keputusan itu diumumkan pada Jumat lalu setelah sidang yang mengungkap bahwa mobil-mobil balap dapat menempuh jarak lebih pendek di pit lane daripada yang diperhitungkan oleh ofisial. Akibatnya, batas kecepatan 60 km/jam yang diukur berdasarkan waktu tempuh menjadi tidak akurat.
Mercedes berargumen bahwa temuan kesalahan pengukuran dan keputusan FIA yang membatalkan penalti Gasly merupakan bukti baru yang belum dipertimbangkan saat menjatuhkan hukuman kepada Russell. Menurut regulasi, hak peninjauan hanya diberikan jika tim dapat menghadirkan bukti baru yang signifikan. Dalam kasus Alpine, bukti tersebut diterima.
Kepala tim Mercedes, Toto Wolff, mengakui bahwa peluang mereka tipis. "Kami hanya ingin duduk di meja saat keputusan dibuat," ujarnya. "Saya tidak yakin ini akan diterima oleh para juri, tapi kami harus melakukannya demi George." Pernyataan ini mencerminkan sikap hati-hati Mercedes meski tetap berupaya memperjuangkan keadilan bagi pembalapnya.
Sementara itu, pembalap McLaren Oscar Piastri, yang juga menerima penalti serupa, mengaku "terpukul" dengan keputusan yang menguntungkan Gasly. Kasus ini memicu perdebatan tentang konsistensi dan akurasi sistem penalti di Formula 1. Bagi penggemar di Indonesia, insiden ini menjadi pengingat betapa pentingnya presisi teknis dalam olahraga bermotor, terutama mengingat popularitas F1 yang terus tumbuh di Tanah Air.
Ke depannya, FIA diharapkan dapat memperbaiki prosedur pengukuran pit lane untuk mencegah kontroversi serupa. Pertanyaan yang muncul: apakah Mercedes akan berhasil mengembalikan poin Russell, ataukah kasus ini justru mendorong perubahan regulasi yang lebih fundamental?

