Menerjemahkan Ulysses ke Bahasa IsiZulu: Ketika Klasik Irlandia Menemukan Rumah Baru di Afrika
Baca dalam 60 detik
- Penerjemah asal Afrika Selatan, Sandile Ngidi, mengalihbahasakan monolog ikonik Molly Bloom dari novel Ulysses ke dalam bahasa isiZulu, membuka akses bagi pembaca baru terhadap karya sastra yang dikenal sulit.
- Perayaan Bloomsday di Johannesburg tahun 2026 menjadi ajang penegasan bahwa bahasa Afrika mampu membawa dan menafsirkan ulang karya sastra dunia, menantang dominasi bahasa Eropa dalam kanon sastra global.
- Terjemahan ini memicu diskusi tentang kepemilikan sastra klasik dan relevansi tema Joyce tentang identitas, migrasi, dan kekuasaan di tengah ketegangan sosial kontemporer di Afrika dan dunia.

Setiap 16 Juni, penggemar sastra di seluruh dunia merayakan Bloomsday, hari yang mengabadikan novel Ulysses karya James Joyce yang terbit pada 1922. Tahun ini, perayaan di Johannesburg, Afrika Selatan, memiliki warna berbeda: untuk pertama kalinya, monolog panjang Molly Bloom—bagian penutup novel yang legendaris—dibacakan dalam bahasa isiZulu, hasil terjemahan sastrawan dan penerjemah Sandile Ngidi.
Ulysses berkisah tentang satu hari biasa dalam kehidupan tiga tokoh di Dublin pada 16 Juni 1904. Lewat pengembaraan Leopold Bloom, Joyce mengeksplorasi tema identitas, memori, hasrat, dan modernitas awal abad ke-20. Novel ini terkenal karena kerumitan gaya bahasa dan strukturnya, sehingga sering dianggap hanya untuk kalangan akademisi. Namun, terjemahan Ngidi membuktikan bahwa karya paling menantang sekalipun dapat menemukan audiens baru di luar Eropa.
Acara yang digelar di Bridge Books, sebuah toko buku komunitas di pusat kota Johannesburg, juga menampilkan pembacaan dari penulis Afrika Selatan Ivan Vladislavić dan Terry-Ann Adams. Yang menarik, perayaan multibahasa ini sengaja diadakan di kawasan yang sebelumnya menjadi lokasi demonstrasi kelompok anti-imigran. Menurut penyelenggara, langkah itu menegaskan bahwa imajinasi kewargaan yang menjadi inti karya Joyce tetap relevan di tengah masyarakat yang beragam.
Terjemahan isiZulu hanya mencakup sebagian kecil dari novel yang tebalnya lebih dari 700 halaman itu. Namun, dampaknya jauh melampaui sekadar alih bahasa. Sejak diterbitkan, Ulysses telah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa, sebagian besar di Eropa. Kehadirannya dalam bahasa isiZulu menantang asumsi bahwa hanya bahasa-bahasa besar yang layak membawa karya sastra dunia. "Bahasa Afrika bukanlah pinggiran dari budaya sastra global, melainkan partisipan aktif yang mampu membawa, membentuk ulang, dan menafsirkan ulang karya-karya paling sulit," demikian argumen para pengamat sastra.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini mengingatkan pada perjuangan serupa dalam menerjemahkan karya sastra dunia ke bahasa daerah. Di tengah dominasi bahasa Inggris dan Mandarin, upaya seperti terjemahan Ulysses ke isiZulu membuka pertanyaan: siapa yang berhak mengklaim sebuah karya klasik? Joyce sendiri, yang menulis dari Irlandia yang terjajah, bergulat dengan hubungan antara bahasa dan kekuasaan. Ia mengekspresikan pengalaman Irlandia melalui bahasa Inggris—bahasa penjajah—sekaligus menentangnya. Kini, terjemahan ke bahasa Afrika justru memperkuat gagasan bahwa sastra klasik bukanlah milik eksklusif satu bangsa atau bahasa.
Perdebatan tentang kepemilikan sastra klasik semakin relevan di era ketika isu migrasi dan identitas nasional memanas di berbagai belahan dunia. Di Irlandia dan Afrika Selatan, ketegangan politik kerap dipicu oleh sentimen anti-pendatang. Joyce, lewat penggambaran interaksi sehari-hari yang tampak remeh, justru menyoroti drama universal tentang kehilangan, pengkhianatan, dan pencarian jati diri. "Ulysses sebenarnya tentang interaksi acak dan tampak sepele," tulis seorang pengamat. "Molly Bloom menghabiskan hari di tempat tidur, sementara suaminya berkeliling kota mengingat kematian anak mereka dan mengetahui istrinya berselingkuh. Itulah drama kehidupan manusia."
Terjemahan Ngidi bukan sekadar latihan sastra. Ia adalah tindakan imajinasi yang memungkinkan pembaca menemukan pertanyaan-pertanyaan lama dari sudut pandang baru. Alih-alih sekadar mereproduksi Ulysses, terjemahan ini menciptakan pengalaman membaca yang menerangi baik novel Joyce maupun potensi ekspresif bahasa isiZulu. Dengan membawa Joyce ke dalam bahasa isiZulu, Ngidi tidak hanya memperluas jumlah pembaca Ulysses, tetapi juga memperkaya perspektif yang dapat digunakan untuk memahami novel tersebut.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: apakah terjemahan serupa akan dilakukan untuk bahasa-bahasa daerah lain di Afrika, atau bahkan di Indonesia? Jika bahasa isiZulu mampu menampung kompleksitas Joyce, mengapa bahasa Jawa, Sunda, atau Batak tidak? Langkah Ngidi membuka jalan bagi dialog sastra yang lebih inklusif, di mana karya-karya besar dunia tidak lagi menjadi monopoli segelintir bahasa, melainkan milik semua orang yang mau membacanya.



