Gempa Dahsyat Venezuela: 2.645 Tewas, Keluarga Korban Desak Pemerintah Percepat Evakuasi
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan besar di Venezuela menewaskan 2.645 orang dan melukai lebih dari 12.000 jiwa, dengan operasi penyelamatan mulai dihentikan.
- Keluarga korban yang masih tertimbun reruntuhan mendesak pemerintah untuk mempercepat proses evakuasi dan identifikasi jenazah.
- Bencana ini memicu kekhawatiran akan dampak krisis kemanusiaan di tengah kondisi ekonomi Venezuela yang sudah terpuruk.

Otoritas Venezuela mengonfirmasi jumlah korban tewas akibat gempa bumi dahsyat yang mengguncang negara itu pekan lalu mencapai 2.645 orang, sementara lebih dari 12.000 lainnya mengalami luka-luka. Angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring proses pencarian dan evakuasi yang mulai memasuki tahap akhir. Di tengah duka yang mendalam, keluarga korban yang masih tertimbun reruntuhan bangunan mendesak pemerintah untuk tidak menghentikan operasi penyelamatan sebelum semua jenazah berhasil ditemukan dan diidentifikasi.
Gempa yang berpusat di wilayah pesisir La Guaira, sekitar 30 kilometer dari ibu kota Caracas, menghancurkan ribuan bangunan tempat tinggal dan fasilitas umum. Tim penyelamat dari dalam negeri dibantu oleh personel dan anjing pelacak dari Meksiko serta beberapa negara sahabat lainnya masih berupaya menjangkau area terdampak yang sulit diakses. Namun, menurut pernyataan resmi, fase penyelamatan korban hidup secara resmi telah berakhir dan beralih ke tahap pemulihan serta penanganan jenazah.
Keputusan untuk menghentikan operasi penyelamatan menuai protes dari warga yang masih berharap menemukan anggota keluarga mereka yang hilang. Di beberapa titik, warga melakukan aksi demonstrasi damai dengan membawa foto-foto korban dan spanduk yang meminta pemerintah untuk terus mencari. โKami tidak akan pergi sebelum mereka semua ditemukan, baik hidup maupun mati,โ ujar seorang ibu yang kehilangan dua anaknya, seperti dikutip dari laporan media setempat. Pemerintah Venezuela, melalui badan penanggulangan bencana nasional, menyatakan bahwa prioritas kini adalah mengidentifikasi jenazah dan memberikan santunan kepada keluarga korban.
Bencana ini terjadi di tengah krisis ekonomi dan politik yang berkepanjangan di Venezuela. Infrastruktur yang sudah rapuh, minimnya peralatan medis, serta terbatasnya pasokan listrik dan air bersih menjadi tantangan besar dalam proses evakuasi dan perawatan korban luka. Organisasi kemanusiaan internasional, seperti Palang Merah dan Mรฉdecins Sans Frontiรจres, telah mengirimkan bantuan, tetapi akses ke daerah terdampak masih terhambat oleh kerusakan jalan dan jembatan.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi, mengingat posisi geografis Indonesia yang juga berada di Cincin Api Pasifik. Pengalaman Venezuela dalam menangani bencana skala besar, termasuk koordinasi bantuan internasional dan penanganan korban massal, dapat menjadi pelajaran berharga bagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah di Indonesia. Apakah sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi di Indonesia sudah cukup optimal untuk menghadapi skenario serupa? Pertanyaan ini layak menjadi bahan evaluasi bersama.



