DLH Tangerang Siagakan Alat Berat dan Damkar Cegah Kebakaran TPA Rawa Kucing
Baca dalam 60 detik
- Penyiraman rutin dengan Morooka Crawler Dumper berkapasitas 5.000 liter per ritase dilakukan untuk menekan suhu timbunan sampah.
- BPBD Kota Tangerang menyiagakan satu unit mobil pemadam kebakaran di lokasi TPA sebagai langkah antisipasi darurat.
- DLH menggandeng aparat keamanan untuk sosialisasi kepada pemulung dan mendorong pemilahan sampah dari rumah.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang mengintensifkan langkah mitigasi kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Rawa Kucing di tengah cuaca ekstrem yang meningkatkan risiko akumulasi gas metana. Kepala DLH Wawan Fauzi memastikan penyiraman rutin pada area landfill menjadi prioritas utama untuk menurunkan suhu timbunan sampah dan mencegah pemicu api.
Dalam pelaksanaannya, DLH mengerahkan satu unit Morooka Crawler Dumper yang mampu mengangkut hingga 5.000 liter air per ritase. Kendaraan berat ini dirancang untuk menjangkau area landfill yang sulit diakses, sehingga proses pendinginan timbunan sampah berlangsung lebih optimal. Langkah ini bukan sekadar respons insidental, melainkan bagian dari standar operasional prosedur (SOP) yang diterapkan secara konsisten oleh petugas TPA.
Selain penyiraman, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang turut menyiagakan satu unit mobil pemadam kebakaran di kawasan TPA. Wawan mengapresiasi dukungan ini sebagai bentuk kolaborasi lintas instansi untuk menjaga keamanan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi darurat. "Kami terus berkolaborasi untuk menjaga situasi dan kondisi TPA Rawa Kucing agar tetap aman dan terkendali dari berbagai potensi bencana," ujarnya.
DLH juga menggandeng Polsek Neglasari dan Koramil 02/Batuceper untuk memberikan sosialisasi kepada para pemulung yang beraktivitas di sekitar TPA. Langkah ini bertujuan menciptakan lingkungan kerja yang tertib dan aman, sekaligus mengurangi risiko kebakaran akibat aktivitas manusia. Wawan menekankan bahwa kawasan TPA tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga harus menjadi zona yang aman bagi semua pihak.
Dalam kesempatan yang sama, Wawan mengajak masyarakat berperan aktif mengurangi timbunan sampah melalui pemilahan sejak dari rumah. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik disalurkan ke bank sampah setempat. "Melalui kebiasaan memilah dan mengolah sampah dari sumbernya, kita dapat mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA Rawa Kucing sekaligus mendukung pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan," ungkapnya. Ke depan, efektivitas mitigasi ini akan terus dievaluasi seiring dengan peningkatan volume sampah dan perubahan cuaca yang tak menentu.



